Search

Content

0 komentar

Novel Janji - Tere Liye


Kita semua adalah pengembara didunia ini.
Ada yang kaya, pun ada yang miskin.
Ada yang terkenal, berkuasa, juga ada yang bukan siapa-siapa.

Ada yang seolah bisa membeli apapun, melakukan apapun yang dia mau, hebat sekali.
Ada yang bahkan bingung besok harus makan apa.

Tapi sesungguhnya dimanakah kebahagiaan itu hinggap ? Dimanakah hakikat kehidupan itu tersembunyi ? Apakah seperti yang kita lihat dari luar saja ? Inilah Kisah tentang janji

Kita semua adalah pengembara didunia ini. Dari hari ke hari. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu kejadian ke kejadian lain. Terus mengembara.

Dan pasti akan menggenapkan janji yang satu ini : mati

-------------------------------------
Novel ini cetakan 1 pada tanggal 1 Juli 2021 dengan no ISBN : 978-623-97262-0-1 dengan ketebalan 488 halaman

Bahar menjadi tokoh utama dalam Novel ini, namun kita berinteraksi dengan Bahar dari sudut pandang cerita tokoh tokoh yang ditemui tiga sekawan yang betugas mencari Bahar. Sepanjang membaca novel ini ada banyak petuah dan kritikan satire khas tere liye. Namun yang lebih dalam lagi di Novel ini kita menemukan bagaimana mencari kebahagiaan adalah hal yang tak mudah, bahagia sejati bukan bahagia yang sebenarnya hanya bumbu materialisme kebendaan.

Pencarian kebahagiaan jika ditemukan, ternyata berujung pada kebermanfaatan, dimana nikmatnya melebihi batas umur usia biologis seseorang karena menjadi inspirasi yang menggerakkan bahkan membawa kepada perubahan komunal.

Tak elok kalau saya memberikan spoiler  dari isi novel ini, biarkan pembaca bisa menyelaminya dengan penuh adukan emosi, kadang marah, geram, sedih bahkan hingga keluar tetesan air mata. Bagi saya sendiri isi novel ini memberikan inspirasi yang dalam. Jangan lupa jika ingin membacanya bisa pinjam atau beli novel aslinya, jangan membeli buku bajakan.



Baca selengkapnya »
0 komentar

Human Initiative Jabar Bantu 50 Warga Jalani Isolasi Mandiri di Majalaya





Bandung - Human Initiative Jabar bersama Satuan Gugus Tugas COVID-19 Majalaya mendistribusikan 50 paket bantuan sembako bagi warga yang sedang menjalani isolasi mandiri di Desa Majalaya, Jawa Barat pada hari Selasa, 6 Juli 2021

Bantuan paket sembako yang diberikan berupa beras, sarden dan supleman makanan. Hal ini ditujukan guna memenuhi kebutuhan logistik warga yang sedang menjalani isolasi mandiri.

"Saat ini, terdapat kurang lebih 50 kepala keluarga di Desa Majalaya yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumahnya masing masing. Bahkan sempat terjadi kepanikan dan ketakutan pada warga ditengah lonjakan jumlah angka positif COVID-19," ujar Sopi (satgas COVID-19 Majalaya)




Salah seorang warga (Fakhri, 37 tahun)  yang sedang menjalani isolasi mandiri menuturkan "awalnya saya mengalami gejala panas, demam dan hilang rasa serta penciuman." Sementara untuk saat ini Fakhri tinggal sendiri di rumah sementara keluarga sudah dipindahkan ke rumah saudara.

Sementara itu, Erni usia 29 tahun mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan paket sembako yang diterima, semoga bisa meringankan dan memenuhi kebutuhan pokok selama menjalani isolasi mandiri di rumah.

Dalam rangka mengurangi dan memutus rantai penyebaran COVID-19, team Satgas COVID-19,- Majalaya melakukan beberapa upaya diantaranya penyemprotan disinfektan dua kali dalam 1 pekan, edukasi protokol kesehatan, menghimbau warga agar tetap tenang dan melapor apabila sudah terdapat gejala COVID-19.




Sahabat inisiator mohon doa dan dukungannya selalu, semoga kita senantiasa tetap menguatkan dan membantu sesama ditengah kondisi pandemi.

#stillfightcorona #isolasimandiri #solusipeduli #IndonesiaMasihMembutuhkanKita
Baca selengkapnya »
0 komentar

Human Initiative Jabar Launching HOME dan Rumah Belajar Online di Babakan Sari Kiara Condong




Kamis 30 juni 2021, Human Initiative Jawa Barat  telah melaksanakan launching Program HOME dan RBO ( Rumah Belajar Online) di lokasi ke-2 untuk 50 anak yatim dan dhuafa yang terletak di Babakan Sari, Kiaracondong.

Alhamdulillah acara Launching berjalan lancar dengan dihadiri oleh  Ketua DKM Mesjid al-idrisyiah, Ketua RT setempat, Kepala Cabang HI Jabar, tokoh masyarakat dan anak-anak calon penerima manfaat. Dengan menjalankan protokol kesehatan.

HOME merupakan rumah singgah untuk anak yatim dan dhuafa, home menyediakan rumah bermain, rumah belajar, rumah kreatifitas, serta rumah belajar online. Dimana didalamnya terdapat perpustakaan serta fasilitas Wifi untuk belajar online anak.





" Alhamdulillah, disini bisa dihadirkan rumah belajar, program ini pastinya akan sangat membantu anak-anak kami untuk menggapai cita-citanya, saya ucapkan banyak terimakasih kepada Human Initiative serta para donatur." ujar  pak suratno ketua Rt 4

Semoga dengan adanya HOME dan RBO ini bisa meningkatkan kualitas anak-anak yatim/dhuafa dan membantu mereka menggapai cita-cita.
Baca selengkapnya »
0 komentar

Program Ketahanan Pangan bersama Kelompok Disabilitas Pratama Mandiri, Cimahi di Awali dengan FGD



Senin, 21 Jun.2021, Tim Human Initiative Jawa Barat kembali bersilaturahmi bersama kelompok disabilitas pratama mandiri untuk melaksanakan audiensi sekaligus diskusi secara terarah (FGD) mengenai program ketahanan pangan.

Program Ketahanan Pangan bagi kelompok disabilitas ini merupakan salah satu bentuk Kolaborasi dari PT. Swamedia bersama Human Initiative Jawa Barat yang berfokus untuk mewujudkan kemandirian dan kepedulian bagi disabilitas terutama di wilayah Jawa Barat.

Mengingat ditengah kondisi pandemi yang kian melonjak, dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan, kali ini kegiatan audiensi dan FGD  tersebut dibatasi hanya diikuti oleh 10 orang perwakilan dari kelompok disabilitas dan dilaksanakan di saung kelompok dengan penuh suka cita dan antusias dari masing masing peserta. 




Ditengah serunya jalan diskusi, salah satu peserta (Srie) menyampaikan pendapatnya mengenai permasalahan utama yang kini dihadapi diantaranya keterampilan dan pengetahuan kelompok dalam budidaya sayuran dan pembuatan pupuk alami yang masih kurang, kondisi saung kelompok yang sudah lapuk dan kerap diterpa hujan, serta minimanya pendampingan dan bantuan alat pertanian kerap menyebabkan hasil panen (jagung, mentimun, cabai, ikan lele) tidak optimal dan kian merugi. Hal ini tentunya menjadi pilu karena untuk pendanaan kegiatan kelompok selama ini hanya mengandalkan kas kelompok secara swadaya.




Jalannya acara diskusi yang dipandu oleh team Human Initiative Jabar selama 2 jam 30 menit menyimpulkan terdapat beberapa potensi yang bisa dioptimalkan dan digali secara lebih jauh diantaranya tingginya minat dan motivasi kelompok disabilitas dalam bidang pertanian dan usaha ternak, masih belum optimalnya pemanfaatan lahan seluas 1.2 Ha serta modal gotong royong kelompok yang tinggi dalam setiap melaksanakan kegiatan bersama.

Harapannya kedepan setelah mendapatkan informasi dari hasil diskusi ini, semoga program Ketahanan Pangan bagi kelompok disabilitas ini dapat menyasar pada penguatan fokus pengelolaan kelembagaan, sarana infrastruktur, dan pemasaran produk hasil pertanian secara lebih baik dan optimal.




Program ketahanan pangan ini merupakan titik keempat setelah sebelumnya di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan di Kabupaten Kuningan. Semoga program ketahanan pangan ini mampu meringankan beban sesama dan membangun kemandirian kelompok disabilitas.

Baca selengkapnya »
0 komentar

Kesabaran Memanen Nira Menjadi Gula




Disaat pagi, nira dipanen satu persatu dari pohon ke pohon. Menapaki pohon yang jika dihitung bisa lebih dari 1 kilometer memanjat.





Kemudian nira dimasak, ditunggui sepanjang lima jam. Api jangan sampai mati untuk memastikan nira terus mendidih.





Disela memasak nira, si bapak mencari kayu bakar di hutan untuk persiapan memasak selanjutnya.

Setelah matang nira didiamkan untuk kemudian di cetak.



Saat itulah kita perlu mensyukuri bisa menikmati secangkir kopi Brown sugar latte


----
Subang, 17 Juni 2021
Baca selengkapnya »
0 komentar

“Paket Sembako dan Suplement” untuk Penggali Kubur Pasien Covid-19 TPU Cikadut Jawa Barat”


Beberapa Pekan ini, kasus konfirmasi positif covid-19 menanjak. Jika dibandingkan data yang diambil pada 15 Mei lalu dari covid19.go.id, maka peningkatan kasus sekitar 500 persen pada 18 Juni 2021 kemarin.

Petugas pemakaman TPU Cikadut beristirahat di sela padatnya tugas

Melihat kasus covid-19 yang menanjak, Human Initiative bergerak mendistribusikan paket makanan dan multivitamin untuk Tenaga Kesehatan (Nakes) dan Petugas Pemakaman. Distribusi ini dilakukan secara serentak se Pulau Jawa di lokasi TPU jenazah covid – 19 di makamkan dan di Puskesmas sekitar.

Sebanyak 100 paket didistribusikan pada hari Sabtu (19/06/21) untuk Nakes dan Petugas Pemakaman Jenazah covid-19. Ada Lima Titik yang menjadi sasaran di Pulau Jawa yaitu, di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, TPU Cikadut, Kota Bandung Jawa Barat, TPU Pemda Sleman, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman Djokjakarta, Kandangmas Rt 03/09 Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus, dan yang terakhir di Puskesmas Arosbaya Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.




Menindak lanjuti respon nasional , Human Initiative mendistribusikan sebanyak 24 paket didistribusikan pada hari Sabtu (19/06/21) untuk Petugas Pemakaman Jenazah Covid -19 di TPU Cikadut, Kota Bandung Jawa Barat.

Baca selengkapnya »
0 komentar

Pulau Samalona



Saat itu hampir tiga tahun saya berada di Sulawesi Selatan, tapi belum kesampaian menginjakkan kaki di Pulau Samalona, malah pulau - pulau lain di daerah Pangkep dan Takallar sudah dikunjungi. Karena itu medio November 2020 saya berkunjung kepulau Samalona bersama keluarga dan teman - teman.

Pulau Samalona masih berada di Selat Makassar, masih masuk wilayah adminitratif Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar. Termasuk destinasi primadona wisatawan yang berkunjung ke Makassar, tapi saat saya mengunjungi pulau ini sepi karena dihantam pandemi.

Pulaunya kecil, kalau kita iseng ingin berjalan mengelilingi pulau tidak sampai setengah jam. Untuk menuju pulau, bisa melalui pelabuhan kecil tepat di depan benteng Rotterdam yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari pantai Lossari. Disana kita bisa negoisasi dengan para pemilik perahu, rata rata biaya sewa perahu sekitar Rp 400.000 - Rp 500.000.



Perahu ketinting akan melaju menuju pulau melewati kapal kapal besar yang ada di perairan Makassar. Tenang saja, ombak tidak begitu tinggi sampai ke lokasi pulau. Memakan waktu sekitar 30 menit dari dermaga menuju pulau Samalona. Sepanjang perjalanan saya menikmati melihat pemandangan Kapal kapal besar yang sedang bersandar, dan perahu ketinting lincah melewati sela sela perairan dekat kapal besar tersebut.



Sampai di pulau, kita akan disambut dengan pasir putih dan birunya laut. Di Pulau terdapat warung penduduk, tapi lebih baik membawa bekal. Saya dan teman teman membawa bekal ikan segar yang di beli di pelelangan ikan untuk dibakar. Ikan bakar khas Makassar bumbunya hanya garam yang di larutkan di air dan dioleskan ke ikan. Rasa ikannya masih segar dan alami, seperti ada manis - manisnya. Biasanya ditambah sambal khas lokal untuk menikmati ikan bakar segar.



Aktifitas yang bisa dilakukan di pulau bisa menyelam dengan menyewa alat di lokasi, berenang, atau hanya duduk duduk di pinggir pulau dengan menikmati birunya laut dan semilir angin pantai sambil merenung dan minum kopi. Bayangkan kita seperti seorang yang terdampar dipulau yang jauh dari peradaban dan punya kesempatan untuk banyak merenung, bersyukur akan kehidupan yang kita jalani.




Jika teman - teman sudah sampai Makassar, sempatkan berkunjung ke pulau Samalona ini, tetap dengan menjaga protokol kesehatan, dan belanja ke penduduk agar ekonomi warga juga bergerak.
Baca selengkapnya »
0 komentar

Menjalani Hidup Minimalis




Ngeri saat membaca kasus korupsi di Jiwa Sraya , Bansos dll, bisa jadi salah satu penyebab perilaku korup adalah ketamakan, keinginan untuk memiliki terus dan terus
Beberapa tahun yang lalu Saya membaca buku ini, Good Bye Things . Buku tulisan Fumio Sasaki ini bercerita tentang gaya hidup minimalism di Jepang. Menjadi semacam antitesa tentang berusaha mengejar dan terus memiliki barang barang yang menyebabkan keterjebakan pada ketamakan.
Dari membaca buku ini kemudian membuat saya jadi merenung ,memiliki barang tidak terlalu banyak ternyata asik juga, dan memang tidak semua harus dimiliki. Apalagi dikeluarga nomaden seperti keluarga Saya, yang hidupnya masih berburu dan meramu ha ha karena memang selalu berpindah tugas antar kota dan pulau.

Mungkin rasanya seperti backpacker yang membawa barang sekedar dibutuhkan didalam ransel, akan lebih lincah ketika Travelling, keluar masuk bus atau kereta dibanding membawa koper koper berat.
Minimalism juga menjauhkan kita dari pola hidup hedonic treadmil, pacuan yang sebenarnya tidak membawa kita kemana mana. Penghasilan yang seperti terus membesar tapi seolah pengeluaran juga jadi terus membesar, seperti orang yang lari di treadmil.
Minimalism juga mendorong kita untuk lebih banyak waktu bercengkrama dengan keluarga dibanding ngurusin barang, lebih banyak dana yang bisa disisihkan untuk sedekah ,menabung dan berinvestasi, dan bisa lebih fokus pada pekerjaan maupun aktifitas yang menjadi tanggung jawab utamanya.
Kalau ditanya apakah Saya sudah bener bener menjalankan gaya hidup minimalis, ngga juga sih masih belum ideal karena masih suka kalap buat belanja buku, jadi kalau moving antar kota kardus bukunya masih banyak.

Paling tidak karena keinginan untuk minimalis Sy jadi terjauhkan dari keinginan untuk hutang.

Menurut temen temen, gimana nih melihat tentang gaya hidup minimalis? atau malah sudah menjalaninya?
Baca selengkapnya »
0 komentar

Menikmati Lebaran



Alhamdulillah sudah lebih dari lima tahun anak anak full berpuasa. Dan seperti biasa kami tidak memberikan hadiah apa apa untuk pencapaian ini.

Karena sesungguhnya menikmati ramadhan itu sendiri hadiah terindah, menikmati berbuka puasa dan bersaur bersama keluarga, menikmati itikaf bersama keluarga dan teman, menikmati berbagi dan bersedekah dari apa yang bisa disedekahkan.

Kemudian, kesuka citaan ramadhan ini dilengkapi dengan kenikmatan lebaran, anak anak ikut mengatur jadwal dan packing mudik, mengatur jadwal agar tepat waktu dan tidak tertinggal kendaraan.

Mulai dari merencanakan jadwal naik pesawat , jadwal kereta sampai akhirnya bisa sampai ke kampung dengan tepat waktu. Saat transit menuju stasiun dari bandara sempat terjebak macet di jogjakarta karena ada pawai takbir keliling, jarak tempuh yang seharusnya hanya 20 menit menjadi 2 jam perjalanan ,tapi karena sudah diperkirakan waktu nya, jadi menikmati serunya takbir keliling di jogjakarta , tumpah ruah sampai Malioboro.

Setelah shalat led , berlanjut dengan mengunjungi saudara, dan saat ini masih berlanjut mengunjungi saudara . Menikmati dinginnya kaki gunung Sindoro, berhangat di Pawon menunggu bakso matang, hadiah dari tuan rumah.

Beribadah dengan tulus, tumbuh dari rasa cinta. Bukan sekedar pembiasaan tanpa ruh. Kedekatan dengan Allah SWT , menjadikan dekat dengan sesama manusia. Anak anak juga Menikmati dialek antar daerah dari ujung barat Jawa tengah sampai ujung timur Jawa tengah. Setelah sebelumnya lidah sudah mulai terbiasa dengan dialek Makassar.

Dialog dialog dengan keluarga, saudara yang lintas usia dan generasi, mendengar cerita tentang pertanian dari cara bertani sampai rugi dan untungnya petani saat ini.
Kemudian kami biasa menguatkan diskusi, nak bahwa di dunia ini bukanlah mengejar materi, carilah misi dan alasan kenapa kita diciptakan di dunia.
Cari peran
terbaik
kemudian istqomahlah , karena godaan instan dunia itu berat, dan banyak yang tergelincir karenanya.

Tak terasa dua mangkok bakso telah habis dilahap , dan diluar kabut tebal sudah turun disertai gerimis yang membuat semakin pekat .

-----
Tieng , 10 Juni 2019
Baca selengkapnya »
0 komentar

Bumi Manusia





Setahun lalu, saat hiruk pikuk rilis film Bumi Manusia, saya tidak terlalu memperhatikan, sekilas hanya melihat di media saat perilisan film. Tadinya saya kira semacam film science fiction , tentang alien atau superhero, ah betapa nda updatenya saya. 
Setelah beberapa saat, baru saya ngeh kalau itu film adaptasi dari novel yang legendaris dari Pramoedya Ananta Toer. Novel yang di tulis dipengasingannya di pulau Buru. Alih alih ingin melihat filmnya, istri yang terlebih dahulu minta untuk membeli novelnya. Novel sudah selesai lama dibaca istri, dan teronggok di rak buku.

Beberapa hari yang lalu barulah saya membacanya, setelah diskusi dengan istri tentang serunya novel tersebut. Sejak pendemi, kuantitas membaca buku jadi lebih banyak memang, buku buku yang belum dibaca akhirnya satu demi satu saya baca. Sinopsis buku Bumi Manusia di tulisan ini lebih ke sudut pandang saya sebagai pembaca, apa yang saya rasakan dan apa yang saya pahami, jadi mohon maaf kalau nanti banyak ngelanturnya.

Novel setebal sekitar 500 halaman ini, membawa saya ke suasana zaman penjajahan Belanda di penghujung tahun 1800an, menjelang pergantian abad. Suasana, sudah sedikit berbeda dari suasana di awal masa penjajahan. Digambarkan saat itu Belanda sudah mulai memfasilitasi pendidikan pribumi, dan didalam negerinya sendiri sudah mulai ada pertentangan pemikiran tentang legalitas penjajahan di bumi Hindia. Ternyata tidak semua orang Belanda sepakat dengan penjajahan di Hindia. Bahkan sampai ada anekdot dikalangan internal orang Belanda, kalau mereka yang menjajah itu sebenarnya tadinya hanyalah petualang yang terbuang dari negerinya, yang kemudian menemukan tanah dinegri sebrang untuk kemudian direndahkan martabatnya demi mendapat keuntungan.

Dibanding kisah percintaan antara Minke dan Annelies, saya lebih menikmati latar sejarah dan pergolakan pemikiran yang menjadi latar kisah Bumi Manusia, Rasialisme sepertinya memang menjadi masalah barat sejak dulu, walau tidak semua barat setuju dengan hal ini. Kisah kasus rasis di Amerika beberapa waktu yang lalu,seperti menggambarkan bara dalam sekam rasialisme barat, ini memang menjadi pekerjaan rumah bagi barat yang terus berkelindan dari dulu sampai sekarang.

Sosok Minke, ditulis Pram seperti seorang yang kalut, bagaimana minke bertemu dengan banyaknya ragam pemikiran ,dari tuntutan  tradisi jawa ningrat yang terus ditagih oleh bunda dan ayahnya, kalangan sekolah HBS, kalangan pemikir liberal Belanda yang bercorong pada pemikiran multatuli, diwakili oleh gurunya yang saya lupa namanya saking sulitnya penyebutan nama sehingga susah saya ingat, pemikiran mantan tentara kompeni asli prancis yang insyaf yang kemudian menjadi sahabat sekaligus seperti kakaknya.

Akhir yang tragis dari Novel Bumi Manusia, bukan berarti menyurutkan arti perjuangan dari seorang Minke, pemuda yang berusia 18 tahunan, (yang kalau saat ini mungkin masih asyik rebahan) tapi harus menghadapi situasi pelik permasalahan didalam keluarga nyai Ontosoroh, sekaligus melawan rasialnya Belanda, wajar sih kan mereka Penjajah. 

Kalau anda belum membaca Novel ini, abaikan tulisan ini,  novelnya jauh lebih seru karena nuansa sejarahnya belum pernah kita jumpai dimata pelajaran PSPB di jaman saya dulu sekolah, ngomong ngomong PSPB kok jadi mirip PSBB ya 
Baca selengkapnya »
0 komentar

Renungan Diri

Tidak semua yang menjadi keinginan harus dimiliki.

Teruslah merasa tenang dan cukup untuk kemudian kembali memberi.

Jika masih gelisah dan obsesif dengan diri, apa yang hendak diberi dan dibagi?

Banyak orang mengatakan, time is money, bagi kami itu salah, karena time more than money. Waktu yang telah lewat tidak akan kembali ,bahkan sebanyak apapun uang yang dimiliki takkan pernah waktu terbeli untuk kembali

Jangan sia siakan kehidupan dengan membuang waktu dengan kebencian tak berkesudahan, tamak yang tak berujung.

Jangan kaget, jika memandang cermin, kita sudah menua ,tapi tak kunjung dewasa.

Karena dewasa bukanlah didapatkan karena akumulasi melewatkan waktu.

Lalu apa ?
Biarlah diri menjawab apa adanya, karena kadang kita juga seperti anak anak, yang sedang bermain peran sebagai orang dewasa.
Baca selengkapnya »
0 komentar

Membuat Vlog pertama

Ceritanya ini Vlog pertama dari ekspedisi keluarga yang mau kami upload ke YouTube.

Ekspedisi Sulawesi #1 ini tentang perjalanan kami ke kebun angin ,tempat kincir angin raksasa di Jeneponto, dan Pantai Seruni Bantaeng. Tujuan utama sebenarnya ke Bantaeng sih, buat ngobrol ngobrol sambil ngopi di tepi pantai sambil menikmati sunset.

Kami terkesan saat kunjungan sebelumnya ke Bantaeng ,kota kecil yang bersih dan sejuk. Apalagi saat melihat deretan warung kopi persis ditepi pantai

Bagi kami, tujuan perjalanan sbnrnya adalah bonus, kami menikmati proses perjalanannya, kadang mampir dulu, kadang silaturahim dulu, kadang anak anak heboh diskusi sepanjang di kendaraan.

Yuk langsung aja ke https://youtu.be/SBtWXGeKgE4

Baca selengkapnya »
0 komentar

Habibie dan Misi Keluarga





Seorang suami yang memiliki misi hidup yang jelas lalu membuktikannya sepanjang hidupnya bersama istrinya lalu juga anak anaknya bahkan menjadi misi keluarganya, seolah bagai mata air inspirasi dan manfaat yang tak habis habisnya.

Pak Habibie, misi nya sejak muda, cuma satu, bagaimana membangun kedirgantaraan yang khas Indonensia sehingga memberi manfaat sebesarnya besarnya bagi bangsa Indonesia. Misi yang mengkristal dalam tempaan kehidupan semasa muda, diikrarkan di ranjang rumah sakit dalam keadaan nyaris mati, lalu dibuktikan selama hidupnya sampai kini.

Lihatlah bagaimana lelaki sejati itu tak kenal pensiun sampai Allah nanti mewafatkannya, mengapa? karena ia terus menunaikan misinya, panggilan hidupnya, tugas spesifiknya, peran peradabannya yang apabila tercapai (accomplished) maka tercapailah maksud penciptaan Tuhannya atas dirinya.

Lihatlah sorot mata nya berapi api jika berbicara misi dan visi hidupnya, ia seolah pemuda 19 tahun dalam tubuh seorang kakek berusia 81 tahun. Lihatlah kegeraman lelaki sejati itu kepada siapapun yang dianggap menghalangi misi suci hidupnya itu.

Lihatlah beliau bahkan berhasil membawa istrinya dan anak anaknya kepada keluhuran misi visi personalnya yang kemudian menjadi misi visi keluarganya bahkan kini misi visi keturunannya.

Ilham Habibie, putra sulungnya, hasil "pendidikan" istrinya, Ainun, yang berhasil menurunkan misi, visi dan value Habibie menjadi proses "pembudayaan" atau "pemeradaban" di rumahnya. Hanya ada 2 orang yang mengambil S3 bidang pesawat terbang di muka bumi, yaitu Habibie dan Ilham Habibie. Misi keluarga yang ajeg dan hebat dinarasikan akan membuat pendidikan di rumah memiliki sandaran dan pijakan yang kokoh untuk bergerak.

Ia, Habibie, tak mencari harta, ia tak mencari kekuasaan, ia tak mencari popularitas, ia fokus mencari makna, ia fokus pada misinya, ia bersuka dan berduka menjalani segala ujiannya, jalan mendaki lagi sukar, namun dengan misi yang jelas terpampang di depan mata dan terhunjam di dalam dada. Lalu Allah berikan harta, kedudukan bahkan posisi presiden yang tak pernah sedetikpun menjadi ambisinya. Baginya itu semua tak ada artinya dibandingkan manfaat besar bagi bangsanya berupa rancangan pesawat khas Indonesia beserta manfaatnya.

Tak seperti kebanyakan pejabat yang mati gaya ketika tak berkuasa, tetapi Ia, Habibie tak berhenti berlari ketika jabatan kekuasaan tak lagi di tangannya karena bukan itu tujuannya, ia bahkan kini berlari lebih cepat dari sebelumnya melampaui masa ketika masih di Nurtanio dan PT DI. Ia seolah ingin berpacu menemui Robbnya dan menjemput syurganya dengan karya karyanya yang semakin memberi manfaat dan rahmat bagi bangsanya dan dunia. Sungguh pacuan akhir yang mulia.

Bukan hanya itu, misi personal yang menjadi misi keluarganya, membuat ikatan cinta yang kuat pada istri dan anak anaknya. Betapa nyaris hancur hatinya ketika Ibu Ainun, wanita yang senantiasa mendukùng misi nya, dipanggil Allah lebih dulu. Namun sebagaimana tahun tahun jatuh bangun dalam kehidupannya, misi hidup atau panggilan hidup itulah yang membuatnya bertahan, terus bangkit dan berlari.

Benarlah pesan yang mengatakan, "carilah kebenaran, jangan cari ketenaran. Jika kau cari kebenaran, maka kau akan dapat keduanya".

Maka wahai para Lelaki sejati, mari temukan misi personalmu dengan kokoh dan azzamkan untuk mewujudkannya sepanjang hidup lalu kelak jadikanlah misi keluarga untuk diwujudkan bersama dan menjadi legacy bagi ketururunanmu. Engkau kan lihat cintamu abadi pada istri dan anak anakmu juga negeri dan Tuhanmu.


Oleh : Ustd.Harry Santosa
Baca selengkapnya »
0 komentar

Yuk Ikut Donasi Berbagi Air Untuk Wilayah Terdampak Kekeringan Di Sulawesi Selatan



Potensi kekeringan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia (Rilis BMKG 27/06/2019) salah satunya di Sulawei Selatan.
Salah satunya Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan yang menjadi wilayah terdampak Longsor di awal tahun 2019 kemarin, kembali mengalami kesulitan khususnya air bersih untuk dikonsumsi. Mereka hanya mengandalkan mata air yang airnya keruh dan berbau.
Melalui program Penyaluran Air Bersih dan Pembangunan Sarana Air Bersih bersama Human Initiative Sulawesi Selatan, dapat mengalirkan kebahagiaan kepada mereka.
Caranya Mudah! Donasi dapat di transfer ke rekening PKPU
BCA : 6000.420.555
Mandiri : 152.000.5893.579
Muamalat : 80.100.48.331

Atau lebih mudah lagi dengan menggunakan Go-Pay. Caranya:
1. Buka aplikasi GO-JEK/GO-PAY anda. 
2. Scan barcode yang di gambar.
3. Masukan nominal donasi Anda.
4. Masukan PIN GO-PAY Anda. 
5. Transaksi sukses

Konfirmasi donasi :

📲 0822 9376 0974

Human Initiative Sulawesi Selatan
Jl. Tun Abdul Razak, Perum. Citraland Ruko Avenue, Blok K/11.



Baca selengkapnya »
0 komentar

Fokus Saja Pada Peranmu Sekarang





Saya pernah mendengar kisah tentang seekor rusa bunting yang merasa akan segera melahirkan anaknya. Dia berlari mencari tempat yang nyaman untuk melahirkan, dekat semak di pinggir sebuah sungai. Ternyata mendung makin pekat, langit gelap. Rusa betina dikagetkan oleh suara petir yang begitu menggelegar, ternyata petir itu menyambar pohon dan mengakibatkan kebakaran di seberang hutan.
Rusa betina meringis sendirian, belum habis kagetnya seekor singa mengaum tak jauh dari tempatnya berada. Nyeri jelang persalinannya kian terasa, ia tak lagi mampu berdiri apalagi berlari. Diam dalam kekhawatiran yang membesar seperti api di seberang hutan. Ia masih mengedan saat seorang pemburu mengarahkan busur ke arahnya. Ia tak tahu hendak lari kemana, di depannya pemburu bersenjata, di belakangnya singa lapar yang mengincar di kanannya hutan terbakar dan kirinya sungai yang dalam.
Lalu ia pun diam, tak hendak lari kemanapun. Sebagian karena tak punya pilihan, sebagian karena telah hilang kekuatan, sebagian karena buntu berpikir. Ia pasrah, ia hanya ingin melahirkan saja anaknya ke dunia dan segera memeluknya. Ia melakukan saja apa yang bisa ia lakukan saat itu : melahirkan anaknya.
Hujan menggerimis, badan mungil anak rusa mulai terlihat keluar dari jalan lahir. Darah mengucur, menderas bersama hujan. Panah pemburu melesat, buyar konsentrasinya melihat pertamakalinya rusa melahirkan. Tasss, auman keras terdengar disusul suara rebah.
Ternyata panah pemburu itu mengenai singa lapar di ujung sungai. Api berangsur padam seiring hujan. Seekor anak rusa jantan lahir lunglai, tapi selamat. Rusa betina itu masih di tempatnya, tak hendak lari kemana-mana. Ia hanya mendekap dan menjilati tubuh anaknya. Babak barunya sebagai ibu dimulai, kini ia tak bisa lari kencang sendiri. Tapi kini ia tahu bahwa dalam kelemahannya, ia lebih kuat kini. Bukan karena mampu mengatasi semua masalah, tapi karena ia tahu bahwa ia sejatinya tak pernah sendiri. 
----------------
Barangkali saat ini anda berada pada situasi yang lebih sulit dari rusa betina. Ada banyak kekhawatiran yang singgah di kepala, tentang yang sudah berlalu dan tak bisa anda ubah. Tentang semua kemungkinan yang bisa saja terjadi dan anda tak tahu cara mengantisipasinya. Juga tentang semua beban di pundak yang membuat badan anda tak lagi tegak berjalan bahkan hilang kata dan kekuatan.

Anda memang tak bisa memikirkan dan mengatasi semuanya sekaligus, hari ini. Apalagi perihnya sakit dari luka yang masih menganga dalam sudut jiwa, belum lagi anda temukan obatnya. “ah, biarlah waktu yang membawa keajaiban” ujar anda menghibur diri sendiri.
Padahal anda tahu benar bahwa waktu tak punya kuasa apapun. Andalah kini aktornya, seumpama ada penambahan waktu untuk berlaga di tas ring tanding. Sungguh tambahan waktu itu tak berarti apa-apa jika anda sendiri menolak bangkit dan terkulai menyerah. Ini bukan tentang tambahan waktu atau kesempatan, tapi tentang kesadaran bahwa anda dan dia benar-benar ingin memperjuangkan satu tujuan mulia atau tidak?
Pernikahan adalah tentang dua orang yang bekerjasama, bukan tentang satu orang yang berjuang tapi satunya menjatuhkan. Bukan tentang satu orang yang mengayuh dan satu orang lagi merusak biduk yang berlayar. Sekuat apapun anda kayuh, jika satu orang lagi terus merusak perahu, akan karam juga.
Tambahan waktu untuk berlayar, tanpa ada komitmen menghentikan perusakan : hanya akan membuat tenaga makin habis, membawa perahu anda ke samudra yang lebih dalam dan ombak yang lebih ganas : makin jauh dari tepian.
Anda memang tak bisa mengatur kekuatan ombak, tak bisa mengendalikan arah angin, tak bisa mengusir hiu-hiu, tak bisa menunda gelapnya malam, tak bisa mempercepat datangnya pagi. Ada banyak hal yang tak bisa anda atur dan anda kendalikan, begitu pula anda tak bisa mengatur hatinya, tak bisa mendikte cintanya, tak bisa memastikan taubatnya. Semua itu bukan dalam genggaman tangan anda.
Karena itu tak perlu anda pikirkan semua, karena anda tetap butuh waras untuk melanjutkan kehidupan anda dan anak-anak. Focus saja pada kendali di tangan anda, lakukan tugas anda sebagai hamba Allah sebaik-baiknya. Tak perlu memikirkan semuanya, termasuk omongan orang lain tentang anda. Mereka penonton yang melihat dan bersorai dari kejauhan.
Tak perlu takut sendiri, toh kita lahir seorang diri, mati dan mempertanggungjawabkan semuanya sendiri lagi.
Pada orang yang bersabar atas semua derita, kami disuruh Allah agar menyampaikan kabar gembira. Loh lagi menderita kok diminta gembira ? ya, karena mengikat diri secara permanen dalam penderitaan dan kekhawatiran hanya akan membuat anda putus harapan dan makin jauh dari Allah.
Pikirkan lebih banyak alasan untuk bersyukur dan melanjutkan kehidupan dengan RahmatNya. Bergembiralah sahabatku, atas penderitaan yang kau alami “ah, apakah aku masih punya alasan untuk bergembira?”
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al-Baqarah: 155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al-Baqarah: 156) Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 157)
Sabar itu bukan menikmati penderitaan dan menyerah dalam kehinaan. Sabar bermula ketika anda menyadari bahwa apa yang terjadi hari ini bukan sebuah kebetulan, bukan sebuah kesia-siaan dan bukan coba-coba.
Karena itu anda tak ingin menyalahkan apapun dan siapapun, juga tak mau berandai-andai, tak melarikan diri atau memaki. Anda terima dan anda hadapi, sepenuh kesadaradan bahwa musibah hari ini adalah bagian dari kesalahan anda juga dan anda bersedia bertanggngjawab untuk menyelesaikannya. Anda tunduk menyadari bahwa “sesungguhnya kami adalah milik ALLAH dan padaNYalah kami akan kembali” 
.
.
.

Anda memilih untuk mengingat ALLAH, sebelum mengingat semua kekhawatiran dan ketakutan yang mungkin terjadi. Karena itu anda tenang, karena anda sadar benar bahwa anda memiliki ALLAH dan melibatkanNYA. Tak ada pikiran cemerlang dalam kegalauan, tak akan bisa mengambil keputusan tepat dalam kekalutan. Musibah ini adalah jalan kembali pulang pada ALLAH, mendekat padaNYa, mendengarkan petunjukNYa, bersedia taat pada PerintahNYa. Mudah ? tentu saja tidak, karena itu berarti anda harus meredakan gelombang jiwa yang sedang gemuruh, menepikan selera dan keinginan pribadi semata.
Dengan demikian anda tak lagi mengambil keputusan berdasarkan suka atau benci, juga bukan karena paling mudah atau kecil risiko.
Ini adalah episode merajut keyakinan, mengikat keberanian, menyandarkan diri pada pemilik sebenarnya. Jika anda memiliki ALLAH, maka anda memiliki segalanya. Tapi jika Anda kehilangan ALLAH maka anda sudah pasti kehilangan segalanya. Bukankah gelanggang terberat adalah pertarungan dengan diri sendiri ? memastikan bahwa semua niat dan keputusan kita LILLAH. Lurus, bersih, ikhlas.
Baru setelah itu tugas anda selanjutnya bertindak dengan cara benar dan baik. Pada apa yang jadi fokus dan tanggungjawab anda, dengan sepenuh kesungguhan. anda bukan sedang mempersiapkan jawaban di pengadilan agama, tapi di mahkamah hisabNYA. Karena itu pastikan bahwa apa yang ada putuskan dan anda lakukan, adalah yang terbaik yang bisa anda upayakan dengan semua kekuatan. Anda, dia dan semua orang di dunia berlomba dengan waktu kematian masing-masing, itulah deadline sebenarnya.
Segera move on, jangan sampai sisa waktu kita habis sementara bekal belum cukup untuk menemuiNYA dan mempertanggungjawabkan semua amanah. Selebihnya biar ALLLAH yang menyelesaikan dengan caraNYA. Karena itu kita menyisakan ruang tawakkal. Darisanalah keajaiban-kejaiban tercipta ….
Maafkan saya yang belum banyak membantumu, 

Sumber Tulisan : 

NininKholida

Semarang 17 Februari 2018

Baca selengkapnya »

Sahabat

Artikel Terbaru

Arsip Blog