Search

Content

Senin, 19 Agustus 2019

Fokus Saja Pada Peranmu Sekarang





Saya pernah mendengar kisah tentang seekor rusa bunting yang merasa akan segera melahirkan anaknya. Dia berlari mencari tempat yang nyaman untuk melahirkan, dekat semak di pinggir sebuah sungai. Ternyata mendung makin pekat, langit gelap. Rusa betina dikagetkan oleh suara petir yang begitu menggelegar, ternyata petir itu menyambar pohon dan mengakibatkan kebakaran di seberang hutan.
Rusa betina meringis sendirian, belum habis kagetnya seekor singa mengaum tak jauh dari tempatnya berada. Nyeri jelang persalinannya kian terasa, ia tak lagi mampu berdiri apalagi berlari. Diam dalam kekhawatiran yang membesar seperti api di seberang hutan. Ia masih mengedan saat seorang pemburu mengarahkan busur ke arahnya. Ia tak tahu hendak lari kemana, di depannya pemburu bersenjata, di belakangnya singa lapar yang mengincar di kanannya hutan terbakar dan kirinya sungai yang dalam.
Lalu ia pun diam, tak hendak lari kemanapun. Sebagian karena tak punya pilihan, sebagian karena telah hilang kekuatan, sebagian karena buntu berpikir. Ia pasrah, ia hanya ingin melahirkan saja anaknya ke dunia dan segera memeluknya. Ia melakukan saja apa yang bisa ia lakukan saat itu : melahirkan anaknya.
Hujan menggerimis, badan mungil anak rusa mulai terlihat keluar dari jalan lahir. Darah mengucur, menderas bersama hujan. Panah pemburu melesat, buyar konsentrasinya melihat pertamakalinya rusa melahirkan. Tasss, auman keras terdengar disusul suara rebah.
Ternyata panah pemburu itu mengenai singa lapar di ujung sungai. Api berangsur padam seiring hujan. Seekor anak rusa jantan lahir lunglai, tapi selamat. Rusa betina itu masih di tempatnya, tak hendak lari kemana-mana. Ia hanya mendekap dan menjilati tubuh anaknya. Babak barunya sebagai ibu dimulai, kini ia tak bisa lari kencang sendiri. Tapi kini ia tahu bahwa dalam kelemahannya, ia lebih kuat kini. Bukan karena mampu mengatasi semua masalah, tapi karena ia tahu bahwa ia sejatinya tak pernah sendiri. 
----------------
Barangkali saat ini anda berada pada situasi yang lebih sulit dari rusa betina. Ada banyak kekhawatiran yang singgah di kepala, tentang yang sudah berlalu dan tak bisa anda ubah. Tentang semua kemungkinan yang bisa saja terjadi dan anda tak tahu cara mengantisipasinya. Juga tentang semua beban di pundak yang membuat badan anda tak lagi tegak berjalan bahkan hilang kata dan kekuatan.

Anda memang tak bisa memikirkan dan mengatasi semuanya sekaligus, hari ini. Apalagi perihnya sakit dari luka yang masih menganga dalam sudut jiwa, belum lagi anda temukan obatnya. “ah, biarlah waktu yang membawa keajaiban” ujar anda menghibur diri sendiri.
Padahal anda tahu benar bahwa waktu tak punya kuasa apapun. Andalah kini aktornya, seumpama ada penambahan waktu untuk berlaga di tas ring tanding. Sungguh tambahan waktu itu tak berarti apa-apa jika anda sendiri menolak bangkit dan terkulai menyerah. Ini bukan tentang tambahan waktu atau kesempatan, tapi tentang kesadaran bahwa anda dan dia benar-benar ingin memperjuangkan satu tujuan mulia atau tidak?
Pernikahan adalah tentang dua orang yang bekerjasama, bukan tentang satu orang yang berjuang tapi satunya menjatuhkan. Bukan tentang satu orang yang mengayuh dan satu orang lagi merusak biduk yang berlayar. Sekuat apapun anda kayuh, jika satu orang lagi terus merusak perahu, akan karam juga.
Tambahan waktu untuk berlayar, tanpa ada komitmen menghentikan perusakan : hanya akan membuat tenaga makin habis, membawa perahu anda ke samudra yang lebih dalam dan ombak yang lebih ganas : makin jauh dari tepian.
Anda memang tak bisa mengatur kekuatan ombak, tak bisa mengendalikan arah angin, tak bisa mengusir hiu-hiu, tak bisa menunda gelapnya malam, tak bisa mempercepat datangnya pagi. Ada banyak hal yang tak bisa anda atur dan anda kendalikan, begitu pula anda tak bisa mengatur hatinya, tak bisa mendikte cintanya, tak bisa memastikan taubatnya. Semua itu bukan dalam genggaman tangan anda.
Karena itu tak perlu anda pikirkan semua, karena anda tetap butuh waras untuk melanjutkan kehidupan anda dan anak-anak. Focus saja pada kendali di tangan anda, lakukan tugas anda sebagai hamba Allah sebaik-baiknya. Tak perlu memikirkan semuanya, termasuk omongan orang lain tentang anda. Mereka penonton yang melihat dan bersorai dari kejauhan.
Tak perlu takut sendiri, toh kita lahir seorang diri, mati dan mempertanggungjawabkan semuanya sendiri lagi.
Pada orang yang bersabar atas semua derita, kami disuruh Allah agar menyampaikan kabar gembira. Loh lagi menderita kok diminta gembira ? ya, karena mengikat diri secara permanen dalam penderitaan dan kekhawatiran hanya akan membuat anda putus harapan dan makin jauh dari Allah.
Pikirkan lebih banyak alasan untuk bersyukur dan melanjutkan kehidupan dengan RahmatNya. Bergembiralah sahabatku, atas penderitaan yang kau alami “ah, apakah aku masih punya alasan untuk bergembira?”
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al-Baqarah: 155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al-Baqarah: 156) Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 157)
Sabar itu bukan menikmati penderitaan dan menyerah dalam kehinaan. Sabar bermula ketika anda menyadari bahwa apa yang terjadi hari ini bukan sebuah kebetulan, bukan sebuah kesia-siaan dan bukan coba-coba.
Karena itu anda tak ingin menyalahkan apapun dan siapapun, juga tak mau berandai-andai, tak melarikan diri atau memaki. Anda terima dan anda hadapi, sepenuh kesadaradan bahwa musibah hari ini adalah bagian dari kesalahan anda juga dan anda bersedia bertanggngjawab untuk menyelesaikannya. Anda tunduk menyadari bahwa “sesungguhnya kami adalah milik ALLAH dan padaNYalah kami akan kembali” 
.
.
.

Anda memilih untuk mengingat ALLAH, sebelum mengingat semua kekhawatiran dan ketakutan yang mungkin terjadi. Karena itu anda tenang, karena anda sadar benar bahwa anda memiliki ALLAH dan melibatkanNYA. Tak ada pikiran cemerlang dalam kegalauan, tak akan bisa mengambil keputusan tepat dalam kekalutan. Musibah ini adalah jalan kembali pulang pada ALLAH, mendekat padaNYa, mendengarkan petunjukNYa, bersedia taat pada PerintahNYa. Mudah ? tentu saja tidak, karena itu berarti anda harus meredakan gelombang jiwa yang sedang gemuruh, menepikan selera dan keinginan pribadi semata.
Dengan demikian anda tak lagi mengambil keputusan berdasarkan suka atau benci, juga bukan karena paling mudah atau kecil risiko.
Ini adalah episode merajut keyakinan, mengikat keberanian, menyandarkan diri pada pemilik sebenarnya. Jika anda memiliki ALLAH, maka anda memiliki segalanya. Tapi jika Anda kehilangan ALLAH maka anda sudah pasti kehilangan segalanya. Bukankah gelanggang terberat adalah pertarungan dengan diri sendiri ? memastikan bahwa semua niat dan keputusan kita LILLAH. Lurus, bersih, ikhlas.
Baru setelah itu tugas anda selanjutnya bertindak dengan cara benar dan baik. Pada apa yang jadi fokus dan tanggungjawab anda, dengan sepenuh kesungguhan. anda bukan sedang mempersiapkan jawaban di pengadilan agama, tapi di mahkamah hisabNYA. Karena itu pastikan bahwa apa yang ada putuskan dan anda lakukan, adalah yang terbaik yang bisa anda upayakan dengan semua kekuatan. Anda, dia dan semua orang di dunia berlomba dengan waktu kematian masing-masing, itulah deadline sebenarnya.
Segera move on, jangan sampai sisa waktu kita habis sementara bekal belum cukup untuk menemuiNYA dan mempertanggungjawabkan semua amanah. Selebihnya biar ALLLAH yang menyelesaikan dengan caraNYA. Karena itu kita menyisakan ruang tawakkal. Darisanalah keajaiban-kejaiban tercipta ….
Maafkan saya yang belum banyak membantumu, 

Sumber Tulisan : 

NininKholida

Semarang 17 Februari 2018

0 komentar:

Posting Komentar

Sahabat

Artikel Terbaru

Arsip Blog