Search

Content

Tampilkan postingan dengan label Wisdoms. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisdoms. Tampilkan semua postingan
0 komentar

Menentukan Sikap Hidup


Dua orang lelaki singgah di sebuah kedai kopi di pinggir jalan yang mereka lalui. Rasa haus dan lapar membuat mereka sejenak menghentikan perjalanan untuk sekedar istirahat dan sekaligus menyantap makanan ringan serta kopi panas di kedai tersebut.

Kedai kopi itu sepi saja, tak ada pengunjung lainnya. Hanya mereka berdua yang datang pada saat itu. Segera mereka mendekat ke counter tempat pemesanan. Namun penjaga kedai tampak sangat cuek dan tidak mempedulikan kehadiran dua tamunya. Si penjaga asyik dengan urusannya sendiri dan sama sekali tidak menyapa kepada dua lelaki yang datang.

“Kopi hitam dua bang, tanpa gula”, kata lelaki pertama memesan minuman.
Penjaga kedai tidak menjawab apapun. Wajahnya cemberut. Ia masih tampak asyik mengerjakan urusannya sendiri tanpa peduli pesanan pembeli.
Merasa lama tidak segera dilayani, lelaki pertama kembali mengulang pesanannya.
“Maaf bang, bisa dibuatkan dua gelas kopi hitam tanpa gula ?”
Sambil bersungut-sungut akhirnya penjaga kedai mulai melayani pesanan tersebut. Tanpa berkata-kata, dan tanpa menunjukkan sikap yang ramah kepada kedua tamunya.
Lelaki kedua tampak emosi. Ia merasa marah melihat perlakuan penjaga kedai tersebut. Ia tidak terima mendapat perlakuan yang tidak sopan seperti itu.

“Ayo kita pergi saja dari tempat ini. Masih banyak kedai kopi lainnya di sepanjang jalan ini. Kita sama sekali tidak dihargai”, kata lelaki kedua kepada temannya.

“Sabarlah sebentar. Kau lihat ia sedang mengerjakan pesanan kita. Nanti juga selesai pesanan kita. Ayo kita ambil tempat duduk”, jawab lelaki pertama kalem, sambil menuju kursi tempat duduk yang telah disediakan.

“Tapi penjaga itu sangat tidak sopan. Harusnya ia menghargai dan menghormati kita sebagai pembeli. Kamu terlalu baik kepada penjaga itu”, bantah lelaki kedua dengan ketus dan nada tinggi.
Beberapa saat kemudian dua gelas kopi hitam telah selesai dibuat dan dihidangkan. Lagi-lagi, penjaga kedai menghidangkan kopi ke meja kedua tamunya itu tanpa keramahan sama sekali. Wajahnya masih tampak cemberut dan tidak ada satu kalimatpun keluar dari bibirnya.

“Terimakasih telah membuatkan kopi. Ada pisang goreng keju ?” kata lelaki pertama.
Penjaga kedai hanya mengangguk kecil.
“Saya minta dua porsi pisang goreng keju”, lelaki pertama melanjutkan.
Penjaga kedai itu kembali ke posisi kerjanya, membuatkan pisang goreng keju. Lelaki kedua bertambah kesal dan jengkel atas sikap penjaga kedai itu.

“Aku heran, mengapa engkau mau berkata dan bersikap sopan seperti itu kepada penjaga kedai yang kurang ajar dan tidak tahu sopan santun. Kalau aku mending pergi mencari kedai lain yang penjaganya lebih sopan dan mau menghargai tamu. Terus terang aku tersinggung dengan sikapnya yang tidak memiliki penghormatan”, kata lelaki kedua, masih dengan emosi.

“Jika begitu, engkau sama saja dengan penjaga kedai itu,” jawab lelaki pertama kalem.
“Tapi mengapa engkau bersikap sopan kepada dia, sedangkan dia tidak bersikap sopan kepada kita?” bantah lelaki kedua.

“Mengapa aku membiarkan dia mengatur sikapku ? Perkara dia bersikap tidak sopan dan tidak menghormati, itu urusan dia sendiri. Namun aku memiliki sikap sendiri yang tidak tergantung dari sikap orang lain”, jawab lelaki pertama.

“Kalau kita marah dan emosi melihat sikap dia kepada kita, berarti sikap kita diatur oleh penjaga kedai itu. Artinya sikap hidup kita telah diatur oleh orang lain, bukan oleh diri kita sendiri. Padahal kitalah yang harus menentukan sikap kita sendiri, karena kita yang harus mempertanggungjawabkan setiap sikap dan tindakan yang kita lakukan”, jawab lelaki pertama.

Tentukan sendiri sikap anda. Mengapa menunggu orang lain berbuat baik kepada kita, baru kita mau berbuat baik kepada orang lain ? Mengapa menunggu orang lain menghormati kita, baru kita mau menghormati orang lain ? Mengapa menunggu orang lain bersikap sopan kepada kita, baru kita mau bersikap sopan kepada orang lain ? Padahal kalaupun orang lain kurang ajar kepada anda, itu urusan dia sendiri yang harus ia pertanggungjawabkan di hadapan manusia dan di hadapan Tuhan.

Anda adalah pemilik otoritas atas sikap hidup yang harus anda ambil, bukan orang lain. Karena kita yang harus mempertanggungjawabkan semua sikap dan perbuatan kita sendiri, bukan orang lain. Maka, berbuat baiklah, tanpa harus menunggu orang lain berbuat baik kepada kita. Bersikap ramahlah, tanpa harus menunggu orang lain ramah kepada kita. Berlaku sopanlah, tanpa menunggu orang lain sopan kepada kita. Minta maaflah, tanpa menunggu orang lain meminta maaf kepada kita. Maafkanlah, tanpa menunggu orang lain memaafkan kita.

Jaga diri anda, jangan sampai perbuatan buruk orang lain mempengaruhi diri anda. Karena ada orang bersikap kasar kepada anda, tiba-tiba anda bertindak lebih kasar lagi kepada dia. Karena ada orang marah kepada anda, tiba-tiba anda lebih marah lagi kepada dia. Karena ada orang pelit kepada anda, tiba-tiba anda lebih pelit lagi kepada dia. Anda telah dipengaruhi dan diatur oleh sikap orang lain. Sikap anda reaktif menunggu apa sikap orang kepada diri anda, baru anda mengikuti atau membalasnya. Anda tidak boleh kalah oleh keburukan orang, anda harus menjadi diri anda sendiri.

“Maka tentukan sikap yang jelas. Karena kita adalah penentu sikap hidup kita sendiri. Jangan sampai orang lain mengatur sikap hidup kita sehari-hari”, kata lelaki pertama, santai sekali.

Tak berapa lama, pesanan pisang goreng keju pun dihidangkan. Penjaga kedainya tetap yang tadi. Wajahnya cemberut, tidak menunjukkan sikap ramah sama sekali. Ia menaruh dua piring pisang goreng keju di atas meja kedua tamunya, dan segera berlalu. Tanpa satu kalimatpun diucapkan, tanpa sedikitpun senyuman.

“Terimakasih telah membuatkan pisang goreng keju”, kata lelaki pertama.

Lelaki kedua menghela nafas panjang…….
Panjang sekali !

Baca selengkapnya »
1 komentar

Bahagianya Sederhana, Sederhananya untuk bahagia

Sudah beberapa bulan ini saya selalu mengamati teman saya satu ini. Usianya tak lagi muda, kepribadiannya gak banyak bicara lebih banyak senyumnya, tapi jangan dikira dia rendah diri, dia penuh senyum dan pe de selalu walau motor bebek tunggangannya bener bener sangat sederhana, kayaknya gak bakalan ada di indonesia.

Semua orang geleng geleng dengannya, kok ya maunya memutuskan hidup seperti itu padahal kalo mau, sepertinya dia bisa saja membeli mobil yang cukup murah di kota Phnom Penh ini dibanding harga mobil di tanah air. Tapi itu tidak dilakukannya, dia cukup bahagia dengan apa yang dipunyainya.

Kata orang sih “kalo mau sukses, bertemanlah dengan orang yang telah sukses!”, rasanya rugi besar kalo tidak bertanya kepada teman ini rahasia suksesnya hidup sederhana dan bahagia.

Ternyata teman kita ini dulunya pernah bekerja di Jakarta selama beberapa tahun, dia bercerita kehidupan yang begitu ketat dan pergaulan yang konsumtif membawanya pada kebiasaan kebiasaan hidup gaya metropolitan. Kartu kredit punya 4 (emapat), gadget HP terbaru, lewat 6 bulan kudu ganti lagi dan hang out setiap minggunya. Mobil bekas nyicil begitu pula motor untuk anaknya yang beranjak SMA itu. Tiap bulan jantung jedag jedug karena debt collector menyambangi pintu entrance kantornya. Asal ada pria hitam berperawakan sangar berdiri, dia udah trauma duluan.

Akhirnya hidup sudah tidak terasa nyaman lagi, di luar orang lain mengira dia baik baik saja, padahal baginya besok pagi adalah neraka. Istrinya menyarankan mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi lagi dan akhirnya terdamparlah dia di Kamboja ini, 5 tahun lebih dulu dibanding saya.

Dengan bekal trauma itu, dia belajar merubah gaya hidup terlebih teman teman lokal yang dipilih untuk berinteraksi adalah teman teman lokal golongan biasa biasa saja sehingga mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan membeli motor bebek, belajar makan makanan tradisional mereka, gaya hidup, dsb.

Dengan gaji expat, pengeluaran lokal, membuat hidupnya makin baik yang akhirnya dapat memboyong anak dan istrinya untuk hidup di sini. Aset aset yang ada dijual dan seluruh hutang dilunasi. Anak anaknya yang beranjak ABG pertama tama protes, karena nggak bisa gaul di sini, boro boro sekelas DUFAN lha bisokop sekelas 21 aja nggak ada di sini, tapi lambat laun semuanya terbiasa malah lebih senang katanya.

“Kenapa?” tanya saya suatu hari. Anak anak itu berbicara tentang pergaulannya yang internasional karena sekolah di internasional school dengan teman teman dari berbeda negara, yang biaya sekolahnya bisa jauh lebih murah dibanding sekolah lokal ngetop di Jakarta, bebas macet, lingkungan yang sederhana, gak malu kalo pake baju gak bermerk, la wong merk aja orang orang sini gak paham paham banget kok.

Dengan hidup sederhana itu, dia otomatis cuman nabung saja dan setelah beberapa tahun menabung, akhirnya tercipta 6 rumah kos kosan tanpa kredit dari bank yang sekarang dikelola oleh ibundanya yang tinggal seorang diri di kampung.

“Melihat tabungan kita tambah besar dan besar setiap bulannya, membuat hidup saya tambah pe de mas boy” ujarnya suatu hari. “Di sini enak, orang gak perduli kita pake apa, demikian juga orang indonya sendiri disini, mereka maklum kalo kita hidup di rantauan, jadi gak perlu ada gengsi gengsian lah” tambahnya.

Dari pengalamannya ini membuat saya berpikir dan menarik kesimpulan bahwa faktor lingkungan memang sangat membawa andil dalam sikap dan prilaku kita ternyata. Informasi dan rayuan rayuan dalam bentuk iklan di TV tidak banyak pengaruhnya dibanding pengaruh dasyat dari pergaulan, pergaulan dimana orang gak perduli anda pake HP merk apa, baju merk apa dan mobil jenis apa adalah suatu keadaan yang mungkin sangat jarang di temui di kota kota besar di Indonesia.

sumber: http://boyindra.com/2011/02/21/bahagianya-sederhana-sederhananya-untuk-bahagia/#comments
Baca selengkapnya »
0 komentar

Bukan demi untuk marah menanam anggrek



Alkisah, di sebuah padepokan yang asri, tampak sang Guru sedang bersantai memandangi pohon-pohon bunga anggrek yang tertata artistik, terawat, dan sedang mekar dengan indahnya.

Pada suatu hari ketika hendak berkelana, dia berpesan kepada muridnya, "Anakku, gurumu akan pergi mengunjungi kakek guru dan saudara-saudara seperguruan lainnya. Tetaplah rajin belajar dan berlatih. Dan jangan lupa untuk hati-hati merawat tanaman bunga anggrek kesayangan gurumu ini.”


Murid yang menerima pesan itu, dengan teliti memelihara pohon-pohon bunga anggrek tersebut. Namun, pada suatu hari, ketika sedang merapikan dan menyiram bunga-bunga anggrek, tanpa sengaja dia menyenggol rak-rak pohon tersebut. Prang! Bunyi keras mengiringi berjatuhannya pot -pot bunga anggrek yang pecah berantakan dan tanaman anggrek pun berserakan di sekitarnya.

Murid itu dengan rasa panik dan ketakutan berusaha membenahi sebisanya. Tetapi apa daya, hanya sedikit yang terselamatkan. Dengan rasa was-was, dia pun menunggu gurunya pulang untuk meminta maaf dan siap menerima hukuman apapun yang akan diberikan nantinya.

Setelah sang Guru pulang dan mendengar kabar itu, ia lalu memanggil para muridnya. "Guru, ampun Guru! Saya mengaku salah telah mengecewakan dan merusak bunga anggrek kesayangan Guru. Saya siap menerima hukuman..." sela si murid dengan penuh sesal.

Sambil tersenyum bijak sang Guru berkata, "Muridku. Memang bunga anggrek adalah bunga kesukaan Gurumu ini, maka Guru merawatnya dengan baik sehingga berbunga dengan indah. Perlu kamu ketahui, Gurumu menanam bunga anggrek, alasan utamanya adalah untuk menikmati indahnya warna-warni bunga-bunga anggrek sekaligus untuk memperindah lingkungan di sekitar sini. Bukan demi untuk marah Guru menanam pohon anggrek ini.

Walaupun menyukai bunga anggrek tapi Guru tidak terikat akan bunga-bunga itu, karenanya Guru tidak perlu marah karena anggrek. Tetapi lain kali mengerjakan apapun harus lebih hati-hati. Bunga anggrek bisa ditanam lagi, tapi ketidakhati-hatian adalah sikap yang harus selalu diwaspadai karena bisa berakibat negatif dan berdampak buruk bagi siapa pun.”

Sahabat yang Luar Biasa!

Perkataan sang Guru sungguh benar, "Bukan demi untuk marah menanam tanaman anggrek".

Kita pun bisa belajar dari sini. Seandainya amarah sedang menguasai kita, cobalah berhenti sejenak dan berpikir, "Bukan demi marah menjadi sahabat,” "Bukan demi marah menjadi suami istri,” dan “Bukan demi marah melahirkan dan mendidik anak.”

Dengan demikian, sikap toleransilah yang akan muncul. Kemarahan akan mencair dan damai pun akan menyertai hati kita. Ketika kita hendak bertengkar dengan sahabat, orang rumah, atau keluarga, hendaklah perlu diingat, perjumpaan yang telah terjadi, bukan demi untuk rasa marah, tapi sepatutnya untuk disyukuri.

Mari kita semua belajar untuk berlapang dada sehingga kehidupan akan damai penuh sejahtera!

Salam sukses luar biasa!

[Andrie Wongso]
Baca selengkapnya »
0 komentar

Antara Cangkir dan Kopi


Serombongan alumni salah satu universitas berniat datang mengunjungi guru besar dimana mereka dahulu menimba ilmu. Rata-rata dari mereka sudah tergolong sukses dan hidup mapan dalam karir masing-masing. Setelah bersepakat kumpul di suatu tempat, secara bersama-sama mendatangi professor kampus mereka yang sudah tua.

Pertemuan guru dengan murid itu terasa begitu hangat. Keakraban segera mengalir, mengungkap suka duka semasa di kampus dulu. Maka percakapan pun beralih dan mengarah pada masalah-masalah yang mereka alami sekarang. Dari keluhan seputar keluarga hingga pekerjaan yang membuat mereka stress. Demi menjaga suasana, sang professor mencoba menangkap keluhan-keluhan mantan mahasiswanya itu dengan seksama.

Tidak berapa lama, di tengah keakraban itu sang professor pergi ke dapur dan kembali dengan menawari tamu-tamunya kopi. Kopi dengan porsi besar dan cangkir yang terbuat dari berbagai jenis porselin, plastik, kristal hingga gelas biasa. Beberapa di antaranya terbilang gelas mahal dan beberapa lainnya terlihat sangat indah. Sang professor mempersilakan para mantan mahasiswanya itu ‘self service’ menuang sendiri kopinya.

Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor itu berkata : "Coba kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah kalian ambil, kini yang tinggal hanyalah gelas biasa dan murah saja. Sebenarnya hal ini normal dan lumrah saja. Kalian tentu hanya menginginkan yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami!"

“Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. APA YANG KALIAN INGINKAN SEBENARNYA ADALAH KOPI, BUKAN CANGKIRNYA, namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain.”
“Sekarang perhatikan hal ini: HATI KITA BAGAI KOPI, SEDANGKAN PEKERJAAN, UANG DAN POSISI ADALAH CANGKIRNYA. SERING KALI KARENA BERKONSENTRASI HANYA PADA CANGKIR, KITA GAGAL UNTUK MENIKMATI KOPI YANG TUHAN SEDIAKAN BAGI KITA.

Catatan: Kehidupan yang sesungguhnya adalah hati anda. Apakah anda merasa bahagia dan damai? Apakah anda mencintai dan dicintai oleh keluarga, saudara dan teman-teman anda? Apakah anda tidak berpikir buruk tentang orang lain dan tidak gampang marah? Apakah anda sabar, murah hati, bersukacita karena kebenaran, sopan dan tidak egois?

Hanya hati anda dan Tuhan yang tahu. Namun bila anda ingin menikmati kopi dan bukan cangkirnya, hal-hal yang tidak semarak ini harus lebih mengendalikan anda ketimbang hal-hal semarak seperti pekerjaan, uang dan posisi anda! 


Sumber: Epochtime.com
Baca selengkapnya »

Sahabat

Artikel Terbaru

Arsip Blog