Search

Content

Tampilkan postingan dengan label Love Rohingnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love Rohingnya. Tampilkan semua postingan
0 komentar

Catatan Kemanusiaan Respon Rohingya di Bangladesh - PKPU



Matahari saat itu masih malu menampakkan sinarnya. Hawa dingin terasa sekali masuk melalui celah-celah bilik rumah. Sya’alom (34) sepanjang malam itu tidak bisa tidur tenang. Safiyyah(1) anak bungsunya ia pegang terus semalaman, seakan malam itu adalah malam terakhir baginya. Suhana (27) sang ibu menemani ke empat saudara Safiyyah dalam melewati malam yang dirasakan sangat panjang. Ia sudah bersiap ketika suaminya, sebelum tidur, berkata bahwa mereka harus segera lari, pergi meninggalkan desa mereka. Suhana tahu apa yang harus ia lakukan. Menyiapkan perbekalan untuk perjalanan yang panjang.
Subuh itu, di bulan Agustus 2017, ketika umat islam di berbagai belahan dunia menyiapkan perayaan Idul Adha, Sya’lom mengajak keluarga beserta ibunya hijrah ke Bangladesh bersama ratusan warga dari desa mereka. Sya’lom sudah mendengar sejak beberapa hari sebelumnya, bahwa militer Myanmar sudah melakukan berbagai kekerasan di desa-desa tetangga mereka. Ibunya yag sudah renta ia ajak serta. Pakaian dan makanan ia bawa secukupnya, karena yang utama adalah nyawa mereka. Rumah, ladang dan ternak ditinggalkan, menghilang di kejauhan seiring pagi menjelang.
Perlu waktu 7 hari bagi Syalom dan ratusan keluarga lainnya mencapai perbatasan Bangladesh, yang dibatasi oleh aliran sungai Naf. Hutan, bukit dan lembah ia lewati bersama keluarga mereka. Dalam perjalanan yang berat, rombongan yang awalnya terdiri dari ratusan keluarga, ternyata bertemu dengan ribuan keluarga lainnya, bertebaran di sepanjang perbatasan Bangladesh-Myanmar. Sungai Naf yang membatasi mereka dengan ‘tanah pengharapan’ dipenuhi oleh ribuan manusia yang menyebrang. Mereka tiba tanpa memiliki apapun.
Apa yang dialami keluarga Sya’alom, sama juga dengan keluarga Ali Jauhar, Muhammadul Haq, Nurul Hasyim dan ratusan ribu keluarga lainnya di sepanjang perbatasan Bangladesh-Myanmar. Mereka tiba meninggalkan seluruh harta benda dan tanpa memiliki apapun. Sepanjang Agustus-Desember 2017 sekitar 650 ribu orang Rohingya lari dari rumah-rumah mereka di utara Provinsi Rakhine, khususnya di distrik Maungdaw menuju perbatasan Bangladesh, menghindari kekerasan yang dialami.
Keluarga Sya’alom adalah satu diantara 400 keluarga atau sekitar 2800 jiwa yang menerima bantuan hunian sementara dari PKPU di camp pengungsian Balukhali 2, Bangladesh. Selain hunian, PKPU juga memberikan bantuan berupa alat memasak, kompor gas, selimut, makanan, nutrisi, fasilitas air bersih dan sanitasi kepada total lebih dari 41,000 jiwa sepanjang Agustus-Desember 2017. Bantuan harus diberikan sesegera mungkin, karena mereka tiba di musim hujan dan harus segera menghadapi musim dingin di bulan Januari-Februari. PKPU akan terus membersamai mereka melewati krisis yang terjadi dengan menggulirkan berbagai program untuk menopang kehidupan mereka di pengungsian.
Saat ini senyum mulai tampak di wajah Muhammad Anas (10) anak sulung Sya’alom, yang selama perjalanan menjadi tangan kanan ayahnya. Mustaqimah (putri mereka, kini bisa sekolah lagi dan sepulangnya, ia membantu ibunya di rumah dan mengurus nenek mereka yang telah lanjut. Harapan akan terus ada di wajah-wajah mungil anak-anak Rohingya, walalupun saat ini mereka harus berhijrah. Namun dengan sholawat kepada Rasululloh yang terus terdengar dari surau-surau beratap terpal dan berlantai semen di perbukitan pengungsi tersebut, mereka yakin suatu saat mereka akan kembali, seperti yang dilakukan Nabi mereka ribuan tahun lalu. Kembali dengan aman dan damai.
Cox Bazaar, January winter – 2018
Tulisan : Deni Kurniawan - DRM PKPU
Baca selengkapnya »
0 komentar

Bantuan Untuk Pengungsi Rohingya dari Masyarakat Jawa Tengah



Terimakasih , Jazakumullah Khair untuk masyarakat Jawa Tengah yang sudah membantu saudara kita Muslim Rohingya melalui PKPU Human Initiative Jawa Tengah.

Bantuan berupa Shelter, Bahan Makanan, dan Selimut untuk menghadapi musim dingin, di lokasi pengungsian Cox Bazar Bangladesh.

Berikut Dokumentasi Foto :






Baca selengkapnya »
0 komentar

Dua Sekolah PKPU di Myanmar Di Resmikan Oleh Ibu Mentri Luar Negri



Alhamdulillah sah telah diresmikan sekolah (PKPU) Indonesia di Sittwe, Rakhine - Myanmar oleh Ibu Menlu Retno Marsudi, Semoga jadi salah satu jalan kebaikan bagi rakyat tertindas etnis Rohingya di Myanmar, bahwa ada banyak saudara - saudara muslimnya yg peduli.
Kita boleh bermimpi, suatu saat nanti hak-hak dasar etnis rohingya di Myanmar terpenuhi, yaitu diakui sebagai warganegara, setara dalam hak dan kewajiban, diberikan kebebasan dalam melaksanakan keyakinannya sebagai muslim.




-------
REPUBLIKA.CO.ID, SITTWE -- Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi meresmikan dua sekolah yang dibangun dari donasi masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui Lembaga Kemanusiaan PKPU. Menlu tiba di Sittwe, Provinsi Rakhine State, Myanmar pada Sabtu (21/1).

Rombongan Menteri yang didampingi oleh Duta Besar Indonesia untuk Myanmar Ito Sumardi, tiba di Bandara Sittwe pada siang hari, kemudian rombongan melanjutkan perjalanan ke sekolah yang berada di Hla Ma Chae dan Thet Kay Pyin Ywar Ma. Rombongan disambut antusias oleh anak-anak murid sekolah yang mengibarkan bendera kecil merah putih bersama bendera Myanmar.

Retno merasa bangga dapat meresmikan dua buah sekolah di Rakhine State. Menurut dia, pembangunan sekolah ini merupakan bukti nyata dari kuatnya persabahatan masyarakat Indonesia dengan Myanmar. Secara khusus Retno, memberikan penghargaan kepada PKPU yang telah berhasil mengumpulkan dana untuk pembangunan sekolah ini.

Presiden Direktur PKPU Human Initiative Agung Notowiguno menjelaskan pembangunan sekolah tersebut salah satu bentuk sinergi yang luar biasa antara lembaga kemanusiaan yang ada di Indonesia dengan pemerintah Indonesia. "Dimana beberapa NGO di Indonesia membuat sebuah aliansi yang dinamakan Aliansi Lembaga Kemanusiaan Indonesia (disingkat ALKI) bersama pemerintah dalam hal ini Kementerian Luar Negeri mempunyai tujuan yang sama terkait pelaksanaan program kemanusiaan yang ada di Myanmar,” kata Agung, melalui siaran pers.

Pendirian sekolah ini di Rakhine State, kata Agung menunjukan kerjasama yang kuat antara masyarakat dan pemerintah Indonesia bagi program Myanmar. Sebelum peresmian sekolah, Menlu Retno bersama rombongan Dubes RI untuk Myanmar, Kementerian Luar Negeri dan Aliansi Lembaga Kemanusiaan Indonesia menghadiri Handover Ceremony of the Humanitarian Assistance for Rakhine State di gedung pemerintah Rakhine. Acara ini ditutup dengan penyerahan bantuan 10 truk makanan bagi masyarakat Rakhine State dari Indonesia Humanitarian Aid.
Menlu Resmikan Dua Sekolah PKPU di Myanmar : http://republika.co.id/.../ok6qv5368-menlu-resmikan-dua...
Indonesia Bangun Dua Sekolah di Rhakine Myanmar http://kom.ps/AFvv8k
Dua Sekolah Donasi Masyarakat Indonesia Resmi Dimanfaatkan Masyarakat Rakhine State http://www.tribunnews.com/.../dua-sekolah-donasi...
Sumber : PKPU Eson
Baca selengkapnya »
0 komentar

Perjalanan Kemanusiaan Menuju Rohingnya



Seperti biasa, konsentrasi pkpu tidak hanya pada saudara kita yang ada didalam negeri, yang memang merupakan prioritas utama. Ikatan atas rasa kemanusiaanlah yang kemudian juga menjadikan kami terus bergerak untuk juga membantu saudara yang berada di luar sana, yang seringkali tidak mendapat wadah cukup di media, bahkan seringkali tak ada tempat sama sekali untuk penyampaian penderitaan mereka.

Setelah Somalia, yang hingga kinipun masih terus kita dampingi, kondisi muslim di Rohingnya yang merupakan minoritas dan dianggap bukan warga Myanmar. Mengalami sejuta asa dan penderitaan. Kami mengumpulkan bantuan dan donasi dari saudara muslim yang ada di Indonesia yang kemudian dikawal agar sampai pada tangan-tangan yang membutuhkan. Melewati dan melampaui sekat batas kewarganegaraan, dengan segala resiko yang dihadapkan. Sekali lagi, atas nama kemanusiaan.

Berikut tulisan mba Rahma Damayanti dan foto-foto yang dokumentasi perjalanan Tim PKPU mendistribusikan bantuan ke Rohingnya.

On Rohingya Journey

Berkaca pada kota-kota di Myanmar, maka kita seperti terlempar pada situasi Indonesia 30 tahun yang lalu. Orang-orang lalu lalang dengan menggunakan sarung. Ke kantor, ke sekolah, atau ke tempat-tempat publik lainnya. Para perempuannya mengunakan sejenis bedak dingin di kedua pipinya. Fasilitas umum masih tertinggal dibanding kota-kota lain. Biaya bertelpon super mahal. Demikian Manager DRM memulai kisah perjalanan aksi kemanusiaannya di Sittwe, Myanmar di ruang salam pagi PKPU, Senin 19 November 2012.

Sebuah perjalanan bersama relawan DRM lainnya, Suharjoni. Aksi kemanusiaan dalam rangka mengemban beberapa amanah sekaligus untuk para pengungsi Rohingya di Sittwe, Ibukota negara bagian Rakhine, barat Myanmar. Amanah yang diemban antara lain, distribusi logistik bahan makanan pokok, pembangunan shelter dan pembangunan sumur pompa tangan di lokasi pengungsian, serta pelaksanaan ibadah kurban.


Keinginan PKPU untuk membangun shelter disambut cukup baik oleh pemerintah Sittwe. Sittwe memang daerah yang yang paling rawan di Myanmar. Kamp pengungsian terbesar berada di Sittwe. Jejak-jejakan kampung muslim yang terbakar masih terlihat jelas. Namun, untuk menyamarkan bekas pembakaran, pemerintah setempat menginstruksikan aparatnya untuk menebang pohon-pohon yang tersisa di bekas perkampungan yang terbakar. Tak ada sekolah untuk muslim Rohingya di Sittwe. Bahkan sekolah darurat sekalipun.  


Indonesia bagi para pengungsi Rohingya, bagaikan saudara lama yang bertahun tak bertemu.  Mereka sungguh antusias dan jernih menyambut kedatangan tim aksi kemanusiaan PKPU. Kerinduan pada saudara seiman yang peduli kepada nasib mereka di negeri yang tak mengakui keberadaan mereka.
Nobody's people in a no-man's land. Demikian AlJazeera.com menuliskan. Tanpa kewarganegaraan.

Kondisi kamp pengungsian sangat menyedihkan. Kamp compang-camping yang tak dapat menahan hujan. Anak-anak kecil yang sakit tidak diobati sebagaimana mestinya. Raut wajah penuh derita. Ekspresi kesedihan yang bisa ditutupi dengan senyum sekalipun. Lantai tenda usang itu hanyalah sebuah terpal yang sama kumalnya. Sebagian dari mereka bahkan memilih tidur beralaskan rumput memandang bintang di langit malam. Para lansia yang sakit seolah menunggu kabar kematiannya sendiri.


Berbeda dengan kamp pengungsian muslim Rohingya, kamp pengungsi budha dan hindu yang ikut terusir karena konflik, justru sangat baik keadaannya. Shelter mereka terlihat lebih bagus daripada rumah asli mereka. Kebutuhan perangkat rumah tangga jauh lebih lengkap. Pengungsi budha dan hindu, adalah pengungsi yang lebih berbahagia. Mereka mudah sekali bertepuk tangan untuk merayakan kebahagiaannya.


Komitmen PKPU adalah menolong lintas ras dan agama. Walau keadaan pengungsi rohingya sangat memprihatinkan, pengungsi budha dan hindu tetap menerima bantuan. Ini juga yang menjadi kunci, memudahkan pemerintah Sittwe memberikan izin pembangunan shelter untuk pengungsi Rohingya.


Tim PKPU tak semata mengunjungi dan mendistribusikan bantuan di Sittwe. Tim juga datang ke Ayeryawadhy, di pinggir kota Yangon. Desa ini desa yang terisolir. Dikepung desa-desa lain yang telah dialiri listrik dan jalan aspal yang bagus, desa ini gulita di kala malam. Jalan aspal berhenti ketika memasuki desa ini. Perbedaan yang jelas.


Konflik yang sempat memanas di akhir Oktober, menyebabkan jatuhnya korban tewas dan gelombang pengungsi rohingya yang baru di kamp Sittwe, memaksa para ulama lokal menyerukan pembatalan penyelenggaraan ibadah kurban. Festival kurban yang biasa dilakukan penduduk muslim Myanmar. Hari tasyrik, kebetulan juga jatuh di hari raya
full moon bagi umat budha. Festival kurban atau pemotongan sapi-sapi akan memicu konflik berikutnya.

Alhamdulillah, pemotongan hewan kurban dapat berjalan di beberapa tempat. Tentu, semuanya dilakukan dalam senyap dan tanpa keramaian. Sedang beberapa hewan kurban lain, dipotong dan didistribusikan sebagai kornet. Semua dilakukan dalam diam. Dalam kesunyian.


Sungguh, bukan perjalanan yang sederhana. Untuk mendokumentasikan kegiatan saja, dilakukan sembunyi-sembunyi. Selain doa dan persiapan yang rapi, sebuah aksi kemanusiaan juga harus disertai dengan banyak kerja keras, strategi, kreatifitas, improvisasi, serta sebuah kemampuan mengkomunikasi ide yang mempuni. Sebuah perjalanan yang mengajari sebuah kearifan. Tugas PKPU di Sittwe belum selesai. Demikian juga perjalanan ini belum akan berakhir.
Wallahualam.

Terima kasih kepada seluruh donatur, yang telah mengamanahkan harta terbainya untuk membantu saudara kita di Rohingnya, dan misi kemanusiaanpun masih berlanjut. Hari ini Tim PKPU sedang menuju Gaza, mencoba menembus dan menyalurkan bantuan untuk saudara kita di Gaza setelah sebelumnya di bombardir oleh Israel. mohon doa dari sahabat semua

Dok. Foto :

Source : https://plus.google.com/photos/115703126356304219831/albums/5794550171019074497/5794550199259326098

 1. Setelah 4 hari mencoba, akhirnya berhasil mendapat akses dan tiket pesawat ke kota Sittwe yang terlarang untuk orang asing. Sebuah kesempatan besar dan langka. 

Pesawat ATR 72- 500 siap menerbangkan saya (P Tommy) menuju Kota Sittwe ibu kota Rakhine State tempat terjadinya konflik antara Muslim Rohingya dan Budha Rakhine



 Gizi buruk mulai menyerang anak- anak di kamp pengungsian Baw Du Pha, 40 menit dari kota Sittwe.



Seorang pengungsi Rohingya sedang membuat rumah bambu di pengungsian Thet Kay Pyin, 30 menit dari Kota Sittwe. 

Pengungsi Rohingya tergeletak tak berdaya menunggu antrian pemeriksaan relawan dokter yang jumlahnya sangat terbatas di penampungan pengungsi Bumay Township. 



Relawan PKPU (bertopi) membantu mengangkat bantuan agar tidak kehujanan di Desa Aung Mingala, Kota Sittwe.








Warga Rakhine bebas beraktivitas dan bekerja di Kota Sittwe, sebaliknya Rohingya terkurung dalam blokade militer dan polisi.


 Sarah (nama samaran) tidak bersekolah dan terpaksa berjualan sirih sejak sekolahnya ditutup paska kerusuhan menerjang desanya, Aung Mingala.

Baca selengkapnya »

Sahabat

Artikel Terbaru

Arsip Blog