Search

Content

Sabtu, 17 Agustus 2019

Tabiat Perjalanan adalah Pembelajaran



Hidup ini adalah sebuah perjalanan, memulainya dari awal dan kemudian akan ada akhirnya. Layaknya sebuah perjalanan, disana akan terus ada proses pembelajaran. Kita memulainya dengan terlahir ke dunia kemudian menangis, dan orang orang disekeliling kita akan tersenyum dan tertawa menyambut gembira kelahiran kita. Berharap nantinya saat kita meninggalkan dunia, akan banyak yang bersedih karena begitu bermanfaatnya kehadiran kita didunia.

Begitulah perjalanan, kita mengumpulkan serpihan-serpihan pengetahuan dan pengalaman. Proses dalam perjalanan inilah yang sesungguhnya sangat perlu kita menikmatinya, bukan sekedar fokus pada hasil akhirnya.

Saat kita berjalan digunung, tujuan utama kita adalah puncak. Namun akan sangat rugi ketika kita tidak menikmati proses perjalanannya. Menikmati indahnya pemandangan di perjalanan, menjumpai berbagai macam vegetasi, beradaptasi dengan suhu yang berbeda. Menikmati juga kelelahannya,  yang terobati dengan bercengkrama dengan teman seperjalanan.

Saat kita menggunakan motor untuk menuju suatu tempat, menikmati bagaimana saat motor melaju bertemu dengan jalan lurus, jalan berkelok, tanjakan, jalan berlubang, bahkan jalan yang masih bebatuan. Kadang bertemu dengan kendaraan lain yang lebih besar, asap knalpot yang mengepul hitam dan pengendara lain yang tidak sabaran dan mengeluarkan sumpah serapah. Begitulah tabiat perjalanan, kita tetap harus menikmatinya dengan sekedar berhenti minum teh di angkringan tepi jalan, atau berhenti sejenak menikmati udara berbagai kota yang dilewati.

Saat kita berada di kapal, nun jauh ditengah lautan yang jauh dari daratan, rasa bosan masih lebih baik dibandingkan saat harus menghadapi gelombang ombak yang menerjang, tak jarang kita menjadi semakin takut saat membayangkan cerita tentang kecelakaan kapal, apalagi ketika kapal terhempas gelombang. Namun kita terhibur saat melihat puluhan lumba lumba berenang disamping kapal, ataupun saat malam kita menengadah kelangit melihat taburan bintang diangkasa. 

Saat kita berada diatas pesawat, ketakutan teramat sangat ketika terkena turbulensi, seluruh badan pesawat bergoncang, dan keluar masker dari langit langit diatas tempat duduk. Bergetar hebat seluruh tubuh disertai ketakutan teramat sangat,karena di pesawat tidak ada opsi untuk berhenti atau melompat dari pesawat. Semua harus dihadapi, kita menjadi tenang kembali setelah mengingat, sebelum berangkat sudah bersedekah sebagai salah satu asuransi kita. Setelah turbulensi, kita bisa bernafas lega dan melihat iringan awan berarak di samping pesawat, sembari bersyukur tidak semua orang bisa naik pesawat, bukan karena hanya tidak mampu secara finansial, tapi bisa karena memang tidak punya keberanian. Namun ternyata kita punya nyali untuk berada diatas sini.

Begitulah tabiat perjalanan,kita perlu menentukan tujuan. Setelah itu kita perlu menikmati setiap proses dalam perjalanan kita,karena disana ada banyak pembelajaran

Jangan lupa, tetap tatap dan gandeng tangan pasangan yang menemani perjalanan kita, yakinkan bahwa apapun yang terjadi, kita akan tetap membersamai menuju tujuan yang telah disepakati dan diranang bersama.





0 komentar:

Posting Komentar

Sahabat

Artikel Terbaru

Arsip Blog