Search

Content

Senin, 14 Februari 2011

Akhwat Pemulung


Sudah lama saya mencari artikel ini, inspirasi dari seorang akhwat (saudara muslimah), menepis semua anggapan dari beberapa kalangan yang menisbatkan sosok perempuan berjilbab yang jauh dari kerja keras. Saat itu saya berdiskusi dengan istri, insyaAllah cerita ini bisa menjadi inspirasi dan teladan bagi kita saat ini, untuk bekerja keras, dan terus bersemangat mengejar cita-cita. Tanpa menjadikan identitas kemusliman/kemuslimahan kita sebagai barier yang menghalangi proses ini.

Sambil berjalan, gadis berjubah itu memungut dan mengumpulkan plastik bekas minuman yang ditemuinya sepanjang jalan. Dia berjalan kaki sehari kurang lebih 10 km. Selama berjalan itulah, dengan menggunakan karung goni, dia memperoleh banyak plastik untuk dibawa pulang.

Orang menyebutnya ’Pemulung’ satu pekerjaan yang bagi ukuran usia remaja sangat tidak bergengsi. TAPI TIDAK BUAT MING MING. Gadis berusia 17 tahun, mahasiswi semester pertama jurusan akuntansi. Dan salah satu mahasiswa TERPANDAI di kelasnya.

Mengenakan gamis hijau, jilbab lebar dan tas ransel berwarna hitam, dia memasuki lobi Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang. Saat kelas usai, dia pergi ke perpustakaan.

“Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa memimpin keluarga. Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia.” Itu asalan Ming Ming kenapa saat istirahat dia lebih senang ke perpustakaan daripada tempat lain. (keren ya…)

Sore hari setelah kuliah usai, Ming Ming menuju salah satu sudut kampus. Di sebuah ruangan kecil, dia bersama beberapa temannya mengadakan pengajian bersama. Ini adalah kegiatan rutin mereka, yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di UNPAM.

Setelah itu, dia bergegas keluar dari komplek kampus. Namun dia tidak naik kendaraan umum untuk pulang. Dia lebih memilih jalan kaki ke rumahnya. Padahal jarak rumah dengan kampus lumayan jauh. Dalam perjalanan itulah, gadis bersahaja ini memunguti plastik bekas minuman tanpa rasa jengah sedikitpun. Karena dia berpikir dengan cara inilah dia bisa membantu meringankan beban ekonomi orangtuanya.

Rumah Ming Ming jauh dari kampus. Dia tinggal bersama ibu dan 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang mereka pinjam dari saudara mereka di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Biasanya setelah berjalan hampir 10 km, untuk sampai ke rumahnya Ming Ming menumpang truk. Sopir truk yang lewat, sudah kenal denganya, sehingga mereka selalu memberi tumpangan di bak belakang.

Subhanallah, setelah truk berhenti dengan tangkas dia naik ke bak belakang lewat sisi samping yang tinggi itu. (can you imagine it?)

Ming Ming sekeluarga adalah pemulung. Dia, ibu dan adik-adiknya mengumpulkan plastik, dibersihkan kemudian dijual lagi. Dari memulung sampah inilah mereka hidup dan Ming Ming kuliah.

Ini adalah sepenggal cerita nyata yang ditayangkan dalam berita MATAHATI di DAAI TV sore tanggal 18/8/2009. Di Trans TV juga disiarkan hari selasa beberapa hari sebelumnya, di acara KEJAMNYA DUNIA. Sungguh episode yang membuat bulu kuduk kita merinding dan mata kita berkaca-kaca.

Astaghfirullah. Gimana bisa kita masih sering mengeluh hanya karena tabungan gak nambah-nambah?

OMG…. Bagaimana dia bisa berjalan 10 km perhari? Kita aja jalan 20 menit ke kantor tiap pagi dan sore sudah merasa capek banget. Lemah.

Subhanallah. Semangatnya itu loh. Kalau dengar dia berkata-kata, sepertinya tidak ada rasa minder, malu, bahkan dia sangat yakin. Oh girl, you are so great. Wonderfull.

0 komentar:

Posting Komentar

Sahabat

Artikel Terbaru

Arsip Blog