Search

Content

Tampilkan postingan dengan label Catatan Teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Teman. Tampilkan semua postingan
0 komentar

Konsultasi Jodoh mbah Geek


Pemuda itu telah masuk masanya.
Ia pemuda yang biasa saja. Gagah, tapi tak cukup kaya.
Tapi, hasratnya untuk menikah telah menggelora.
Pilihan tersedia, tapi kemantapan belum ada.

Ia butuh pandu, dan ia tahu kemana ia harus menuju.
Mbah Geek.

"Mbah, saya mau menikah, dan saya mohon petunjuk Simbah," pinta sang pemuda, takzim.
Mbah Geek tersenyum,"Bertanyalah cucuku..."

"Mbah saya ingin menikah, tapi saya ingin calon istri saya si cantik Mac OS X. Bagaimana menurut Mbah?" tanya sang muda.

"Cu, secara bobot Mac OS X itu memang baik lagi cantik. Dari sisi bibit, bagus. Kamu kan tahu siapa Apple itu. Bapaknya berkualitas, anak turunnya cantik dan handal." terang si Mbah.
"Tapi Cu," lanjut Mbah Geek, "Bebetnya ndak pas. Lihat teman-temannya, cuma orang yang necis-necis saja. Kamu harus cukup gaya dan punya modal besar untuknya."
"Dan kamu tahu kan, kalau untuk menikahinya tidak hanya cukup mahar, tapi kamu harus belikan sekaligus rumah keren yang ia pilih sendiri..."


"Kalau begitu Mbah, bagaimana kalau saya pilih Vista saja?" sang muda, menawar.

"Bah! Kamu mau pilih jodoh kayak gitu? OK lah bibitnya terjamin, Bapaknya si Microsoft itu kaya. Bebetnya tidak masalah, teman-temannya sepadan denganmu."
"Tapi lihat dong tampilannya. Cuma gincu belaka. Dia bisanya cuma niru-niru dandanannya si Mac itu!"
"Lagipula dia lelet, lambat, dan sedikit bego." kritik si Mbah, tajam.


Kini sang pemuda bingung, "Lalu Mbah, siapa yang harus saya pilih?"

Si Mbah manggut-manggut, terdiam sejenak.
"Bagaimana kalau Linux?"
"Ia cantik, mandiri, cepat, juga trengginas. Untuk bobot yang ini, simbah angkat jempol."
"Ia pun mengikuti sunnah, maharnya murah. Sisi bebetnya, kulihat temannya adalah orang-orang yang meski sederhana, tapi mereka umumnya cerdas," jelas si Mbah.
"Tapi...."

"Tapi apa Mbah?" tanya sang pemuda, khawatir.

"Semua orang tahu kalau Linux itu open source..."
"Bapaknya banyak..."

catatan : Imron Rosyadi
Baca selengkapnya »
0 komentar

TAK BANYAK YANG SEPERTI MEREKA


“Sudah 3 hari, dua tim kami, tim medis dan tim evakuasi terjebak di Betumonga.  Cuaca benar-benar buruk.  Kami berjalan kaki lebih dari enam jam menembus malam.  Dari Sabeugunggung ke Betumonga terus ke Silabu.   Dari Silabu, kami naik ojek 2,5 jam ke Sikakap.  Angin bertiup sangat kencang.  Beberapa pohon besar tumbang dan melintang di jalan.  Dalam suasana gelap, berkali-kali kami turun untuk memindahkan pohon-pohon tersebut.  Medan yang ditempuh pesisir pantai, gunung, rawa, lumpur, dan hutan rimba.”  Ia menjelaskan dengan tenang.  Kemudian, ia diam sejenak mengambil jeda, dan berkata, “Saya sudah jadi relawan jauh sebelum tsunami Aceh terjadi, tapi inilah medan dan cuaca yang paling sulit kami tempuhi!
 
Saya menelan ludah.  Walau belum lama mengenalnya.  Saya tahu persis, dia bukan orang yang mudah mengeluh apalagi gampang menyerah.  Saya benar-benar khawatir, ia akan mengikuti jejak relawan lainnya, ramai-ramai meninggalkan Mentawai, dalam kondisi Mentawai masih luluh lantak.

Sambil bergurau, saya meneguhkan hatinya.  “Wah landskap geografisnya lengkap khan?  Dari gunung sampai pantai, dari rawa sampai belantara.  Kapan lagi punya pengalaman seperti ini?”.  Ia tertawa.  Detik itu juga saya berkesimpulan.  Ia akan bertahan.

Ia masih saja berbicara dengan tenang.  Soal makan siang setelah evakuasi jenazah.  Soal seorang istri yang meraung-raung sedih ketika ia meminta perempuan itu mengidentifikasi jenazah suami dan anaknya yang mulai bau. 
Sambil mendengarkan ia berkisah, tangan kanan saya sibuk mencari dan menelusuri lembaran peta.  Mengamati gambar kepulauan Mentawai.  Walau lahir sebagai orang Sumatera Barat, sungguh, saya tak banyak tahu soal Mentawai.  Kecuali hanya mengetahui ada beberapa orang Mentawai yang berkulit gelap dan berlogat aneh yang migran ke kampung nenek di Pesisir Selatan, Sumatera Barat.  Dan sebagai alumni sebuah perguruan tinggi dari fakultas yang belajar geografi, saya juga tahu jika kepulauan Mentawai rawan gempa dan tsunami.  Hanya itu.

Mr. Jhony, demikian saya memanggilnya.  Asli Indonesia.  Sudah jadi relawan sejak masih duduk di kelas 1 STM, tahun 1994.  Pertama kali ia bertugas di Liwa, Lampung Barat, mengevakuasi jenazah.  Sekarang, Mr. Jhony adalah relawan untuk dua LSM di Indonesia.  Saya mengenalnya pada suatu kesempatan di Bogor dulu.  Dan saya selalu antusias mendengarkan cerita-ceritanya selama terjun menjadi relawan.

Lalu saya menggugat soal ratusan relawan yang pulang, padahal Mentawai masih berdarah-darah.  Ia sabar menerangkan.  “Bagaimana mereka akan bekerja jika otoritas yang berwenang tidak mengkoordinasi?  Kami sibuk mencari, mengidentifikasi, dan membungkus jenazah.  Setelah dilaporkan tiada tindak lanjut?dan belum soal lainnya!”.  Ia menghela nafas.  Oh, soal birokrasi rupanya.

Transportasi juga menjadi kendala.   Relawan-relawan yang datang cukup berpengalaman dan mau bekerja tapi transportasi tidak memadai.  Medannya sulit ditempuh.  “Dan tak ada upaya berarti untuk memfasilitasi kami!”, terangnya lagi.

Tapi relawan-relawan tak menjadikan itu semua sebagai penghalang.  Maka, ia belajar menjadi tukang kayu.  Bersama orang-orang asli Mentawai membuat perahu ukuran 10,5 m x 1,5 m dari kayu bulat utuh.  Sebuah perahu untuk menyeberangi selat sikakap dan berkeliling Kepulauan Pagai.  Melawan ganasnya ombak samudera hindia.  Mengunjungi para korban di wilayah-wilayah yang belum ditempuhi relawan lain sejak gempa dan tsunami.

“Lho, kita khan memang di daerah rawan bencana.  Terlebih-lebih lagi hampir semua daerah rawan bencana kondisi geografisnya memang sulit ditempuhi!”  Saya berkata lagi. .  “Sebenarnya masalah utamanya apa?  Apakah don’t know what to do or there is no instruction from the top.  Saya menyoal soal kurang koordinasi tadi.

‘Nah, itulah masalahnya rahma (nama saya).  Negara kita ini, negara rawan bencana.  Tapi kita sama sekali tak tanggap bencana.  Ada Undang-undang tentang kebencanaan.  Saya yakin biaya sudah habis banyak untuk sosialisasi.  Tapi masih dalam sebatas wacana.  Manajemen bencananya masih lemah”, katanya lagi.

Mr. Jhony menerangkan.  Satu, harus ada sejumlah orang di masing-masing instansi pemetrintah (pusat atau daerah) yang berperan sebagai relawan.  Jadi bukan dari Badan Penanggulangan Bencana, TNI atau PMI saja.  Relawan dari instansi pemerintah itu benar-benar memahami dan terlatih  untuk emergency response.  Jadi ketika ada bencana di daerah manapun, kaum dari kalangan birokrasi sudah tahu apa yang harus dilakukan. 

Dua, pendidikan kebencanaan harus masuk kurikulum nasional.  Semua orang harus dibekali untuk tanggap terhadap bencana yang kerap terjadi di Indonesia.  Gempa, tsunami, gunung meletus, awan panas, longsor, banjir.  Bukan anak sekolah saja, tapi harus semua orang.  Melalui proses pendidikan, dan pembiasaan.  Berulang-ulang.  Sehingga ketika bencana itu datang.  Kita dapat meminimalisir resiko alias korban.

Tiga, pemberian bantuan haruslah tepat.  Tepat bentuknya, tepat caranya, tepat sasarannya dan tentu saja tepat waktunya.  Jangan sampai bantuan membuat korban menjadi tergantung terus menerus pada orang lain, atau bisa-bisa menjadikan mereka manja.  Dan yang lebih penting lagi, tidak semua bantuan harus berupa materil saja.
Apa itu?  Ya, bantuan lain berupa upaya-upaya membangkitkan semangat dan motivasi mereka kembali.  Bahwa bencana itu bukan the end of the world.  Walau nyatanya  iya, wong ada yang semua keluarganya tersapu tsunami dan rumah rata dengan tanah, patah kakinya pula! 

Para relawan menggunakan beragam cara.  Dongeng untuk anak-anak kecil sebagai trauma healing.  Nobar (nonton bareng) film Laskar Pelangi, atau apalah.  Film-film yang sedikit banyak meninggalkan kesan mendalam dan mampu menyusupkan sebongkah atau sekepal motivasi ke dalam hati para pengungsi.  Mengajari mereka membudidayakan tanaman.  Jadi mereka tidak sekedar berburu dan meramu.  Melatih mereka dengan berbagai life skill (keterampilan hidup). Dan membangun rumah-rumah baru pengganti rumah yang habis tersapu gelombang tsunami.

Dan yang paling penting MENDENGARKAN.  Menjadi pendengar yang empati terhadap keluh kesah, duka lara, harapan, cita-cita atau apa saja yang menjadi curahan hati mereka.  Jika memungkinkan, membantu sekuat daya upaya mengantarkan mereka (terutama anak-anak muda) ke arah cita-cita mereka.  Tak peduli, walau para relawan hanya akan mengantarkan hanya sampai pada sekedar membantu membuat rencana dalam hidup anak-anak muda itu.

Mr. Jhony tidak tahu, saya sudah menitikkan air mata sejak tadi.  Terharu dan bangga karena Allah, Sang Maha Penyayang,  menjaga hati dan jiwa para relawan untuk terus bertugas dan melayani.  Sekuatnya.  Sekeras-kerasnya.  Seikhlas-ikhlasnya.  Tanpa mengeluh.  Siang dan Malam.  Resiko: NYAWA.  Dan tentu saja saya juga meneteskan air mata untuk derita para korban.  Sebelumnya, mereka, hampir semuanya, miskin.  Sekarang miskin dan terluka.  Fisik dan mental.  Jiwa dan harta.

“Wah, relawan-relawan itu benar-benar hebat ya!” kata saya.  Tulus.  “Tidak semuanya rahma.”  Ia bercerita bahwa, ada relawan yang bekerja setengah-setengah.  Sukar bangun pagi.  Merokok ketika sedang menenteng mayat.  Jam 10 pagi menghilang untuk ngopi.  Dan yang lebih parah lagi, tidak terampil.  Tidak tahu bagaimana mengevakuasi mayat dengan aman.  Karena mengevakuasi mayat apalagi yang sudah bau, tanpa perlindungan dan cara-cara khusus, justru membahayakan jiwa relawan sendiri.

Manusia memang banyak macamnya.  Yang katanya preman-preman di Jakarta, dengan tattoo di sekujur kulit, ketika menjadi relawan, bisa sangat berdedikasi.  Memasak untuk lebih dari seribu orang dari jam dua dini hari dengan senyum.  Bertugas dan membantu sepenuh hati.  Di sisi lain, banyak relawan yang bertampang alim, justru bekerja tanpa hati.  Atau setengah hati.  Tapi, saya yakin, lebih banyak relawan yang benar-benar ikhlas dan bekerja keras menyelamatkan korban.  Menyelamatkan jiwa.  Menyelamatkan hidup.

“Apakah para korban dan pengungsi itu akan segera bangkit?”  Jika kita bercermin dari para korban awan panas merapi, saya yakin mereka akan segera bangkit.  “Tidak sesederhana itu!”, sanggahnya lagi.  Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi.  Kultur masyarakat.  Masyarakat Merapi adalah  pekerja keras, hidup dalam ikatan komunal yang kuat.  Gotong royong dan toleransi yang pekat.  Semangat yang tak pernah padam.  Belum lagi bicara pendidikan dan pengalaman hidup.  Di tambah lagi, secara geografis, korban merapi, lebih mudah diakses dan dibantu.  Secara terus-menerus.  Berkesinambungan.  Berkelanjutan.

Beda dengan Mentawai.  Kita berbicara kultur, geografis, pendidikan, dan pengalaman hidup yang sangat berbeda!  Inilah tantangan terbesar  kita semua, tidak saja para relawan, untuk membantu mereka agar bangkit dan termotivasi.  Memulai hidup.  Lagi.  Yang baru.  Jika bisa lebih baik lagi.  Aamin.  Saya benar-benar berdoa untuk itu. 

Sayup-sayup saya dengar suara takbir dan tahmid di belakang suaranya di ponsel.  Hari itu, 10 Dzulhijjah 1431 H.  Tepat di hari raya Qurban.  Merayakan iedul adha tanpa keluarganya.  Ia masih di lokasi bencana.  Entah sampai kapan.  “Mungkin setengah tahun”, katanya lagi.  Sampai mereka benar-benar siap untuk memulai hidup kembali.  Saya rasa, Mr. Jhony sudah mengajarkan arti “Ber-QURBAN” yang sesungguhnya.  Izinkan saya menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya.  Sungguh, tak banyak orang-orang seperti mereka, seperti Mr. Jhony.

Ditulis Oleh ; Rahma Damayanti  (rahma_ramadhan@yahoo.com)


Baca selengkapnya »
0 komentar

Marketing 3.0 dan Lembaga Kemanusiaan



Seiring perubahan yang terjadi di segala bidang kehidupan, dunia marketing-pun tak lepas dari peruahan ini. Era marketing yang mengedepankan profit semata secara perlahan berubah. Era marketing dengan orientasi profit juga disebut dengan era marketing 1.0 (baca : one point “o”). Dan perubahan model Marketing 1.0 ke marketing selanjutnya disebut dengan Marketing 2.0. Di mana era Marketing 2.0 ini mengubah dari product centric ke customer-centric era. Dan sekarang kita melihat bahwa marketing telah mentransformasi diri ke dalam human-centric era. Perubahan kea rah nilai-nilai yang lebih humanis inilah yang dinamai dengan Marketing 3.0. Dalam model marketing ini di sana nilai-nilai dilekatkan pada misi dan visi perusahaan. Perusahaan dan para pemasar dalam konsep marketing ini juga didorong menginkorporasikan visi yang lebih manusiawi dalam memilih tujuan-tujuan mereka. Salah satu prinsip Marketing 3.0 dalam bisnis adalah adanya keberlanjutan (sustainability).

Perkembangan Marketing
Dalam sejumlah buku dan artikel tentang marketing terkini, khususnya tentang marketing era baru, yakni era 3.0, dijelaskan bagaimana sejarah marketing bergulir. Marketing 1.0 adalah marketing yang berfokus pada produk atau dengan istilah lain disebut “Product-Centric Era”. Di mana kegiatan marketing diarahkan sesuai dengan kemauan produsen. Di sini, konsumen sedikit diabaikan dan yang penting adalah bagaimana produsen membuat produk yang bagus dan laku dipasaran.

Setelah berakhir era marketing 1.0, segera kita mengenal Marketing 2.0. Era marketing ini adalah marketing yang berfokus pada pelanggan, dengan istilah lain disebut “Customer-Centric Era”. Lebih maju dari marketing 1.0, di sini kegiatan marketing diarahkan sesuai dengan kemauan pelanggan. Selain produk yang bagus juga memperhatikan aspek keinginan pasar yang ada.

Dan perkembangan yang terkini adalah Marketing 3.0 yaitu marketing yang berfokus pada kemanusiaan, dan disebut dengan “Human-Centric Era”. Kegiatan marketing produk bukan yang utama lagi, karena disini pelaku bisnis justru lebih menonjol aktifitas kemanusiaannya, dengan berbagai kegiatan sosial maupun pelestarian lingkungan hidup.

Dalam marketing 3.0 ini, ada tiga kekuatan yang ada di dalamnya, yaitu : Digitalization, Globalization dan Futurization. Digitalization, saat ini kita hidup dalam era teknologi digital yang tak terbatas. Banyak hal saat ini yang dijalankan secara digital dan hanya dengan memencet satu atau beberapa tombol tertentu. Satu tombol ”klik” saja, kita bias jadi telah melakukan sebuah perubahan yang signifikan.  Dengan munculnya fenomena ”blog” juga, orang dengan bebas dan penuh ekspresi menulis dan mengkomunikasikan apa saja yang menjadi isi kepalanya. Termasuk di dalam dunia maya ini, sejumlah upaya transaksi dan jual beli bisa dilakukan. Faktanya, ada sekitar 1.2 juta posting blog disetiap harinya atau 50 ribu blog terupdate tiap jamnya.

Yang kedua adalah globalization, kalau jaman dulu globalisasi identik dengan anggapan dunia yang kecil “Smaller World” di mana kita bisa tahu apapun yang terjadi di belahan bumi lain dengan akses informasi yang begitu terbuka. Maka saat ini globalisasi lebih diartikan sebagai “Flat World” dengan anggapan bahwa setiap individu dengan satu PC, sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi leader. Faktor yang jelas yang mempengaruhi globalisasi model baru ini adalah “social culture” dan “political legal”.  Yang ketiga adalah Futurization, untuk saat ini di samping menjadi “yang berbeda” juga diperlukan kreatifitas yang tinggi. Market, sebagai sasaran dalam bisnis sudah begitu cerdas untuk bisa menilai produk yang kita buat.

Dalam konsep Marketing 3.0 menurut Hermawan Kertajaya, ada 10 kredo yang seharusnya dilakukan marketer agar mereknya bisa berkelanjutan di era New Wave, era serba transparan dan horisontal ini. Ke-10 kredo itu adalah :
  1. Cintai Pelanggan dan Hormati Pesaing
  2. Tanggaplah pada Perubahan dan Siaplah untuk Berubah
  3. Jaga Reputasi dan Pastikan Siapa Diri Anda Sebenarnya
  4. Pelanggan Sangat Beragam, Sasarlah Pelanggan yang mendapatkan Manfaat Paling Banyak
  5. Selalu Tawarkan Paket yang Bagus dengan Harga Wajar
  6. Pastikan bahwa Anda Selalu Ada untuk Pelanggan dan Sebarkan Berita Baik
  7. Raih Pelanggan, Pertahankan, dan Kembangkan Mereka
  8. Apa pun Bisnisnya, akan Selalu Menjadi Bisnis Pelayanan
  9. Selalu Sempurnakan Kualitas, Harga, dan Deliveri
  10. Kumpulkan Informasi yang Relevan dan Gunakan Kebijaksanaan dalam Pengambilan Keputusan
Keuntungan Lembaga Kemanusiaan
Bagi lembaga kemanusiaan, atau organisasi sosial kemanusiaan, perkembangan marketing seperti saat ini yang menjadi trend marketing 3.0, jelas sangat teruntungkan. Dengan semakin kuatnya dorongan kepedulian perusahaan-perusahaan serta korporasi jelas menambah terbukanya peluang kerjasama dengan mereka. Lembaga kemanusiaan juga semakin berperan penting, mengingat core aktivitas perusahaan sendiri rata-rata bukan di dunia social kemanusiaan. Perusahaan yang ada umumnya akan tetap focus pada bisnis mereka masing-masing dan dalam implementasi social kemanusiaan perusahaan dengan sendirinya akan menggandeng sejumlah lembaga yang memang core aktivitasnya di sana.
Selain itu, dengan pengalaman dan legal formal yang dimiliki, lembag kemanusiaan yang ada dengan sendirinya akan lebih mudah dan tentu saja bisa focus dalam menangani sejumlah urusan social yang menjadi bagian dari kepedulian perusahaan. Kini secara umum permasalahan kepedulian perusahaan dituangkan dalam wujud CSR (corporate social responsibility) yang tidak lain merupakan implementasi model marketing 3.0.

Dengan perkembangan ini, sinergi corporate dengan lembaga kemanusiaan dipastikan akan semakin meningkat dan tentu saja secara kapasitas masyarakat yang dibantu-pun dengan sendirinya bertambah jumlah maupun kualitasny. Tinggal bagaimana selanjutnya sinergi ini mampu melahirkan program-program yang semakin tajam dan berkualitas dalam mendorong usaha-usaha perbaikan kualitas hidup masyarakat, terutama mereka yang secara ekonomi berada dibawah garis kemiskinan. Program-program yang digulirkan juga sebaiknya selain mengandung unsure pemberdayaan, saat yang sama pula harus memiliki konsep sustainability. Artinya program-program sinergi yang ada bukan justeru lebih banyak untuk charity, melainkan bersifat empowerment. Semoga. 

Ditulis oleh  Nana Sudiana GM Marketing & Internal Affairs PKPU-Lembaga Kemanusiaan Nasional

Baca selengkapnya »
0 komentar

'Aktris dan Aktor' Jalanan Yang Menipu...



Panggil saja saya dengan nama Ridha, seorang karyawan di Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU Bandung dan sekaligus diamanahi sebagai seorang jurnalis. Salah satu tugasku adalah kembali menceritakan apa yang aku lihat, aku dengar, aku rasa, dan aku tulis menjadi sebuah tulisan serta aku sebar luaskan agar orang selainku bisa membacanya, dan tentu saja bisa mengambil hikmah di setiap perjalanan tulisanku.

Jarak tempat tinggalku dengan tempatku bekerja lumayan cukup jauh, waktu kira-kira 50 menit aku tempuh dengan menggunakan sepeda motor. Otomatis, apa yang ada di depanku, samping kanan dan kiriku bisa dengan mudah terlihat. Selain itu, aktivitas-aktivitas di perempatan jalan bisa aku perhatikan dengan seksama.

Berhenti di lampu merah, serta merta membuat mata berkaca mata minus tigaku beredar ke segala penjuru arah. Ada banyak orang yang berlalu lalang menjajakan aktivitasnya, mulai dari tukang makanan, tukang koran, tukang ngamen, tukang membersihkan kaca mobil, penari jalanan, bahkan ‘aktris dan aktor’ handal ikut meramaikan panggung pencarian nafkah di jalanan.

Tidak ada yang salah memang dengan macam-macam usaha pencarian nafkah yang mereka jajakan, selagi halal kenapa mesti malu untuk melakukannya. Yang salah adalah ketika sesuatu itu dimanipulasi sedemikian rupa agar banyak orang merasa iba dan akhirnya memberikan kepingan bahkan lembaran uang iba kepada sang penipu atas nama mencari nafkah.

Entah pantas untuk diacungi jempol atau tidak untuk para ‘aktris dan aktor’ di jalanan, aktingnya memang luar biasa bagus layaknya sedang berperan di panggung teater dan dihadiri dengan riuh rendahnya tepuk tangan dari para penonton. Sepintas bisa saja mengecoh banyak mata dan perasaan manusia-manusia yang melihatnya. Sadarkah kita??

Dengan tidak bermaksud mengeneralisir keadaan, mereka yang buta ternyata hanya pura-pura buta. Dengan mengenakan kacamata hitam dan dilengkapi tongkat, berjalan dengan agak sradak-sruduk sana-sini, atau dipapah oleh rekan sejawatnya untuk memuluskan aksinya, agar seolah-olah mata kita mempercayai bahwa dia memang buta.

Mereka yang berjalan ngesot ternyata hanya pura-pura tidak memiliki kaki. Dengan satu kaki yang dilipat, diikat dan dimasukkan ke dalam celana yang agak longgar, berjalan dengan menggunakan kedua tangannya menyisir kendaraan-kendaraan yang berhenti di lampu merah, agar seolah-olah penglihatan kita meyakini kalau dia benar-benar tidak memiliki kaki untuk berjalan.

Tidak hanya itu saja, terkadang aksi panggung mereka diwarnai dengan kreativitas yang lebih. Banyak dari mereka yang berkreasi di tubuhnya sendiri. Tangan dan kaki mereka dibalur dengan ramuan-ramuan, entah apa namanya, yang seolah-olah kita menyadari itu adalah borok yang bernanah.

Tangan atau kaki mereka dibalut dengan perban yang di dalamnya di simpan ikan asin, yang secara otomatis lalat pasti akan hinggap di perban itu. Dan sekali lagi, seolah-olah kita mempercayai bahwa tangan atau kaki mereka terluka, karena tidak ada uang luka itu dibiarkan dan akhirnya bernanah dan dikerubuti lalat.

Sungguh usaha yang cerdas bukan?? Otak kreativitasnya benar-benar jalan, dan topeng-topeng wajah dipermak sedemikian rupa menjadi wajah dengan gurat kesedihan yang mendalam, dan pastinya menghasilkan kepingan bahkan lembaran uang atas nama rasa iba orang-orang yang melihatnya.

Tapi kita dan khususnya saya boleh jadi menjadi barisan dari orang-orang yang tertipu karena ‘kecerdasannya’ mereka berakting. Setelah dirasa cukup usaha pencarian nafkah di hari itu, mereka bergegas ke pinggiran jalan ke tempat teman-teman yang lainnya berkumpul. Ornamen-ornamen sebagai kelengkapan acting dilepas seketika tanpa menghiraukan kita yang terheran-heran karena perbuatan mereka.

Bukan masalah berapa uang yang sudah kita bayarkan untuk acting mereka, tapi perasaan kita yang sudah ditipu atas nama lapar, atas nama iba, dan atas nama rasa kepedulian kita terhadap sesama. Allah Maha Kaya, memberikan kita akal dan fikiran bukan untuk mengelabui setiap pandangan mata, tapi salah satunya untuk mencari rizki-Nya yang halal dengan cara yang baik pula.

Inilah sepenggal dari cerita perjalananku. Semoga tak menjadi sebuah kesalahan ketika ku tulis ulang apa yang aku lihat, aku dengar dan aku rasa. Bacalah, semoga ada hikmah untuk perjalanan kita selanjutnya.

 
Ditulis Oleh: Ridha Fajar ('Sang Jurnalis Peradaban' PKPU Bandung)
Baca selengkapnya »

Sahabat

Artikel Terbaru

Arsip Blog